I'm just an ordinary girl who is very far from perfect because in this world no one is perfect. I'm also not a girl who has a beautiful face. I'm just an ordinary girl who want to remain loved and appreciated.
Sabtu, 10 Desember 2011
Di masa SMA ku sekarang ini, begini-gini aja, nggak ada yang ISTIMEWA/SPECIAL 
Di Sekolah sekarang udah nggak ada yang nama-nya PROM NIGHT
, kurang mengesankan banget ya -____-' Baru aja ini habis nonton "Catatan Akhir Sekolah"
suka banget deh liat tu film, udah berapa kali ya ngulang-ngulang tu film? haha au deh nggak ke hitung
! Enak banget ya rasa-nya punya SAHABAT
Ak sama sekali sampai sekarang belum nemuin lagi yang nama-nya "SAHABAT" setelah mereka(SAHABAT KECILKU) meninggal dalam kecelakaan. Sumpah, pengin banget punya seorang SAHABAT lagi! yaALLAAAAAAAH.. betapa beruntung-nya mereka yang mempunyai seorang SAHABAT, apalagi kalau sekaligus 3/lebih
. Banyak yang bilang, kalau ak ini sahabat ini lah, anu lah, itu lah, dsb. tetapi bagi ku itu tidak, ak sama sekali merasa punya SAHABAT. Ya, gapapa kalau mereka-mereka mengaggap ku sahabat-nya, alhamdulilah
. Tetapi ak sama sekali nggak merasa punya SAHABAT, sama sekali nggak! Sahabat itu nggak ada yang ngegosipin sahabatnya sendiri. Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya. Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman,
tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan
dengan tujuan sahabatnya mau berubah. Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha. Tidaklah gampang mencari seorang SAHABAT dan tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Semoga saja aku bisa mendapatkan seorang SAHABAT, satu pun cukup bagi ku, amin ya robb..
(Ingatlah) tatkala Para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan Kami, berikanlah rahmat kepada Kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi Kami petunjuk yang Lurus dalam urusan Kami (ini)." (QS. Al Kahfi ayat 10)
Jika Cinta Memanggilku,
Terpanggilkah engkau...?
Cinta adalah sebuah isyarat memerdekakan diri dan perisai menenangkan qalbu dari beberapa tipu daya yang memang menipu. Itu menurutku. Pengkategorian cinta bagiku hanya 2, yaitu cinta sejati dan cinta tak sejati.
Cinta sejati adalah cinta yang memberikan kekuatan kehidupan. Baik kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat. Mengapa? Karena dengan cinta yang tulus, dengan cinta yang menerima apa adanya, dengan cinta yang saling mengisi, dengan cinta yang bahu membahu, dengan harapan demi harapan, akan mampu merubah takdir lewat doa-doa dan pengharapan.
Sedangkan cinta tak sejati adalah cinta yang memberikan kelemahan kehidupan. mengapa? Karena tanpa kesejatian, maka apapun dapat kita kolaborasikan dengan cinta itu. Oleh karenanya, cinta tak sejati akan merobohkan dan melemahkan hidup dengan dosa-dosa yang kita lakukan.
Nah, yang menjadi pertanyaan kita sekarang adalah bagaimana sih cinta sejati itu? Cinta sejati bercirikan kekuatan. Sekali lagi “kekuatan”. Ketika kita dipanggil olehnya, maka kekuatan untuk menggapainya pun semakin terarah. Ketika cinta memanggil, bukankan hasrat kita untuk menujunya dengan berbagai cara? Ingat, cara-cara menggapainya pun sudah ada lho...! Apa? Dengan do’a dan pasrah. Jika tanpa doa dan kepasrahan, maka cinta itu “tidak sejati”. Mengapa? Karena cinta itu butuh siapa yang memberikan cinta itu dan memberikan peta petunjuk untuk memaksimalkan tujuan cinta itu sendiri.
Kata pujangga, cinta adalah misteri. Benar apa ndak? Sepertinya ada benarnya. Karena dia datang dengan berbagai cara. Entah lewat pandangan pertama, pandangan kedua, pandangan ketiga, atau seterusnya. Malah, orang yang sudah meninggal dunia sekalipun dapat kita rasakan cintanya, bukan?
Cinta Pertama vs Cinta Sejati
Cinta pertama sulit dilupakan. Inilah kata yang terngiang ketika SMP/SMA
baru sadar. Ternyata cinta pertama kita adalah cinta kepada Tuhan, tau...!!! karena dulunya kan ketika usia kandungan ibu kita 40 hari, Tuhan meniupkan ruh-Nya dalam diri kita. Kemudian di sanalah kita “jadian” dengan-Nya. He...! Namun, banyak orang termasuk diriku sendiri menganggap cinta pertama itu hanya untuk manusia semata. Jika cinta pertama sulit dilupakan, yah ingat Tuhan saja terus menerus. Tuhan yang tidak pernah berhenti melihat dan memandang kita dengan rahmat, dengan mahabbah, dengan nikmat. Dan itu Tuhan lakukan tanpa henti. Tinggal kitanya saja sekarang yang harus bertanya, sudahkah kita selalu ingat cinta pertama kita itu??? Ini bukan materi tasawuf lho, tapi fakta. Coba deh dipikir...!
Nah, apa hubungannya nih cinta pertama dengan cinta sejati? Tuhan tidak pernah menghentikan cinta-Nya kepada kita. Tuhan tidak pernah kaku mengungkapkan cinta-Nya kepada kita. Tuhan tidak pernah memberikan kita sesuatu yang kita benci. Oleh karenanya, Tuhan tidak ingin diduakan. Tinggal kitanya saja sekarang yang harus mengkaji dengan penuh pengkajian akan diri dan apa yang telah Allah berikan kepada kita.
Bukankah konsep cinta itu untuk sementara ini, ingin mencintai dan dicintai? Ingin memberi kemudian diberi? Ingin memerhatikan dan diperhatikan? Ingin merindu dan ingin dirindukan? Ingin menyanjung dan disajung? Ingin senyum dan disenyumi? Ingin merdeka dan dimerdekakan. Malah, ingin mati dan dimatikan... seperti Romeo dan Juliet...?
Tapi, cinta untuk Tuhan bukan cintanya Romeo dan Juliet lho... tapi Tuhan hanya ingin memprioritaskan standar ketaatan kita kepada-Nya. Karena jika dipikir-pikir, kalau kita butuh sesuatu sebaiknya kita ke mana? Kalau kita mati pun tujuan kita ke mana? Bukankah untuk Tuhan? Sekali lagi, sudahkah kita temukan jawaban dari hasrat kita itu?
Rindu pasti memanggil kita selalu untuk-Nya. Karena kita telah bersumpah dulu kepada-Nya. Marilah kita perbanyak ingat kepada-Nya supaya cinta sejatinya selalu ada untuk kita. Dan mudah-mudahan dengan itu cinta untuk menuju-Nya pun diberikan dengan sempurna.
Padukan kerinduan kepada sesama hamba dengan cinta yang tulus terlebih dahulu kepada-Nya. Karena dengan jalan itulah kebahagiaan cinta akan selalu ada tanpa tangis mengiringi kegalauan, tanpa sedih mengiri kepergiannya, tanpa duka ketika simpuh peluh meyakini semuanya adalah sebuah takdir dari mimpi-mimpi kita yang nyata.
"Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat sesuatu yang tidak seimbang? kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam Keadaan payah." (QS. Al Mulk ayat 1 – 4)
Indah Pada Waktunya
Perjalanan hidup yang penuh liku dan konflik seakan menjadi beban yang amat berat untuk dipikul dipundak kita. Melalui tahapan-tahapan ini begitu sulit untuk dilampaui, hanya dengan pasrah dan doa kepada Yang Maha Kuasa lah perjuangan hidup ini diserahkan. Kita hanya berusaha, tapi ALLAH lah yang menentukan.
Ketika kita meminta setangkai bunga segar, yang ada malah kaktus jahat berduri. Ketika yang diminta binatang cantik nan lucu, diberikanlah ulat bulu menjijikan dan menggelikan.
Apabila kita berjalan di tengah padang pasir nan tandus, menemukan sumber air pun sulit sebagai penawar dahaga, sementara kita terus berjalan hingga lelah karena jauhnya perjalanan di tengah padang pasir itu. Tapi, sampai suatu saat perjalanan dipadang tandus berakhir dengan ditemukannya perkampungan, ada kehidupan. Semua itu karena setiap muara ada hulunya, ada ujung ada pangkalnya. Semua ada hikmahnya, ada kenyang setelah kelaparan, ada kesejukan setelah dahaga.
Disini hukum alam berlaku dimana kaktus yang jahat berduri hingga melukai, akan berbunga indah pada akhirnya. Ulat Bulu menjijikan dan membuat gatal akan bermetamorfosa menjadi kupu-kupu indah bebas beterbangan.
Itulah jalan-Nya, semua indah pada waktunya. Kesulitan hingga membuahkan kesedihan, kekecewaan, atau keterpurukan adalah jalan menuju kebahagiaan. Allah tidak akan memberikan apa yang kita perlukan atau apa yang kita harapkan. Tapi Dia (ALLAH) sedang merajut apa yang terbaik untuk kita :)
SEBARIS NYANYIAN DARI IBU

Ibuku malang ibu ku tersayang…
Tatap mata mu Satu,
Seakan kasih sebening kaca.
Masa-masa duka,
Kau bangkitkan gaya jua
Dalam mengarungi gelombang samudera hidup ini.
Nasib tiada pernah kau ratapi
Kau terima dengan tabah
Kehidupan ini kau anggap bagai menggarap sawah
Dengan keringat sendiri kau tanamkan rasa harga diri.
---
Nyanyian itu tak akan pernah terlupakan olehku.
Nyanyian yang mengingatkan aku akan ibu yang telah melahirkan aku dan membesarkan ku hingga aku menjadi seperti ini.
Aku sangat bersyukur karena aku mempunyai seorang ibu yang berhati mulia, yang setiap malam selalu mengantar aku tidur sambil menyanyikan lagu itu, menasehati aku, memberikan aku pujian dan membuat aku bangga padanya karena ketabahan hatinya. Meskipun sering kali aku membuatnya kecewa tetapi ibu tak pernah sedikitpun membesarkanya. Dia tahu bagaimana yang seharusnya dia lakukan untuk memberiku semangat ketika aku merasa terpuruk, patah hati dan hilang kendali.
Ibu adalah teman yang selalu mengisi hari ku dan tempat berlabuh dimana semua kekesalan ku terobati. Ibu, aku rindu pada mu... kapan kau akan menyanyikan lagu itu lagi?
Kapan kau akan menjaga aku ketika aku tengah sekarat, dikala tak mampu untuk menyuap makanan. Kaulah penolong ku ibu. Aku rindu semua itu. Biar sedewasa apupun diri ku, jika berada di dekap mu aku merasa diri ku seperti sepuluh tahun yang lalu. Merengek, manja dan selalu ceroboh.
Nyanyian yang mengingatkan aku akan ibu yang telah melahirkan aku dan membesarkan ku hingga aku menjadi seperti ini.
Aku sangat bersyukur karena aku mempunyai seorang ibu yang berhati mulia, yang setiap malam selalu mengantar aku tidur sambil menyanyikan lagu itu, menasehati aku, memberikan aku pujian dan membuat aku bangga padanya karena ketabahan hatinya. Meskipun sering kali aku membuatnya kecewa tetapi ibu tak pernah sedikitpun membesarkanya. Dia tahu bagaimana yang seharusnya dia lakukan untuk memberiku semangat ketika aku merasa terpuruk, patah hati dan hilang kendali.
Ibu adalah teman yang selalu mengisi hari ku dan tempat berlabuh dimana semua kekesalan ku terobati. Ibu, aku rindu pada mu... kapan kau akan menyanyikan lagu itu lagi?
Kapan kau akan menjaga aku ketika aku tengah sekarat, dikala tak mampu untuk menyuap makanan. Kaulah penolong ku ibu. Aku rindu semua itu. Biar sedewasa apupun diri ku, jika berada di dekap mu aku merasa diri ku seperti sepuluh tahun yang lalu. Merengek, manja dan selalu ceroboh.
Akhir-akhir ini, Aku tahu kau merasa terkekang dengan sikap ayah, merasa dihianati, merasa tak dihargai. Aku tahu kau sangat frustasi. Sering kali dalam keluarga kita terjadi percecokan dan semua kesalahan selalu dilimpahkan pada mu. Kau menerimanya dengan lapang meskipun kau tahu sendiri kalau itu bukan kesalah mu. Ayah tak tahu apa-apa tentang kasih sayang yang kau berikan kepada kami. Dia hanya bisa menuntut dan menuntut agar kita menuruti semua kemauannya dan jika tidak, kitalah yang dianggap tak tahu berterima kasih atas nafkahnya. Kau tak pernah menyadarinya ibu, sehabis kau dan ayah bertengkar, aku tak pernah absen mengintip mu yang sedang menangis termangut-mangut dan kau sesekali menyalahkan diri mu sendiri. Ketika aku mulai terhanyut oleh tangisan mu, tanpa aku menyadari air mata ku ikut menetes. Setitik, dua titik hingga mata ku sembab.
Tak berakhir di situ. Semua orang mengejek mu, menghina mu karena kau dianggap tak berhasil dalam mengurus keluarga, karena kau disebut-sebut sebagai wanita jalang dan materialistis. Padahal mereka tidak tahu apa-apa. Mereka hanya pandai membuat masalah baru tanpa mengintropeksi diri mereka terlebih dahulu. Aku jadi geram mendengar kata-kata mereka. Kalau saja mereka bukan keluarga dekat kita, ingin rasanya aku menghantam dan menjahit mulut mereka agar berhenti membuat gosip yang tak sedap mengenai mu. Bukanya aku tak berani membela mu, hanya saja mereka terlalu tua, dan bukankah ibu pernah menasehati ku, ”kalau ada orang yang berbuat nggak baik terhadap kita, kita harus diamkan karena karma masih berlaku di muka bumi ini, Kak.” dan aku sangat, sangat menghargai nasehat mu itu.
Itu bukan sekali, dua kali kau mendapat perlakuan tidak baik dari mereka. Mereka memang nggak punya perasaan Bu, dan yang terakhir kau di fitnah berselingkuh hingga terjadi percecokan yang paling hebat dari yang sebelumnya. Sebegitu tak tahannya diri mu atas ketidakadilan tersebut, kau terpaksa pergi meninggalkan Aku dan El. Kau pergi tepat pada saat aku terjaga oleh mimpi meskipun tanpa nyanyian itu. Kau pergi pada tanggal ... (titik titik), pukul empat ketika fajar belum tampak dari wajah bumi. Kau pergi dengan membawa luka serta kesedihanmu. Padahal tujuh hari sebelumnya, kita baru saja melangsungkan pesta ulang tahunmu yang ke-38.
Aku bingung mencarimu ibu. Aku mencoba untuk menghubungi kerabat dekat, kerabat jauh bahkan teman mu. Bertanya dimana kini kau berada, tapi mereka sama sekali tak mengetahuinya dan balik menanyai ku. Aku menangis ibu, dan kau tak tahu seberapa besar kekawatiran ku dan Ayah yang begitu panik mencarimu kemana-mana. Seakan-akan kami berdua baru saja kehilangan jiwa kami, aku merasa tubuh ku kosong, nafas ku terasa berat. Berhari-hari aku mengingat dan memikirkan keadaan mu. Aku takut kalau sakit yang kau derita kambuh lagi karena kau tak akan mampu melangkah jika sakit itu kambuh. Aku takut jika aku tak bisa menemui mu lagi dan mendengarkan mu menyanyikan lagu itu untuk ku.
Bu, saat itu tak ada lagi sandaran buat aku untuk bercerita. Tak ada lagi orang yang bisa aku percaya. Ayah terlalu sibuk dengan masa dudanya, adik juga, mereka hanya sibuk dengan diri mereka sendiri. Akulah kini yang bertanggung jawab, mengerjakan segala sesuatu di rumah. Ibu, sekarang aku tak bisa menikmati masa remaja ku, itu semua karena tanggung jawab ku yang tak bisa aku tinggalkan. Kerap kali aku jadi stres karena aku harus membagi waktu ku antara kuliah dengan kerjaan. Aku juga tak pernah dihargai oleh mereka. Aku selalu saja dianggap tak bisa membuat mereka bangga, padahal mereka tahu sendiri bagaimana letihnya aku karena memikul beban ini sendirian.
Ibu, andai saja ada dua pilihan, satu-satunya yang kupilih adalah ikut bersama mu. Andai saja wanita . . . . bebas memilih adat, aku yang pertama kali yang akan ikut adat mu, asalkan aku tetap berada di dekat mu, mendengarkan nyanyian mu, itu sudah membuat ku merasa nyaman.
Sekali lagi aku ingin mendengarkan nyangiann itu bu. Jika kita dipertemukan kembali, aku ingin kau nyanyikan lagu itu lagi untuk ku seperti sepuluh tahun yang lalu di saat aku masih merengek-rengek dan selalu minta kau rangkul 
AYAH, IBU
Sudah sekian lama, sejak tangan Ayah dan Mamah mendekap diri ku yang mungil ini dalam pelukan hangat, merawat ku dengan penuh kasih sayang, cinta, perhatian, dan bimbingan agar aku bisa jadi pribadi yang bisa dibanggakan.
Ayah dan Mamah bilang: "kamu titipan Tuhan,kami harus menjaga kamu baik-baik". Tetapi, seiring waktu berjalan, semakin banyak kesalahan yang aku perbuat yang menyakiti ayah dan Mamah.
Hanya lewat catatan kecil ini, aku ungkapkan semua yang ada di benak ku. Rasa bersalah yang mendalam telah menyakiti Ayah dan Mamah berulang kali (yang hebatnya, Ayah dan Mamah tidak pernah bisa membenci anaknya walaupun telah aku sakiti hatinya berulang kali)
Terima kasih Ayah, Ayah sudah membanting tulang bekerja begitu giat demi menghidupi aku. Maaf Ayah, sering kali aku tidak memperhatikan bagaimana letihnya diri Ayah mencari sesuap nasi bagi keluarga ini. Begitu bodohnya aku tidak menanyakan keadaan diri Ayah, walaupun kita ada di dalam satu rumah sederhana ini. Begitu angkuhnya aku tidak memijat kaki mu, tanganmu ketika ayah letih setelah bekerja seharian demi aku.
Terima kasih Mamah, Mamah telah berjuang hidup dan mati demi melahirkan aku di dunia ini. Maafkan aku Mamah, sering aku tidak membantu mu yang bekerja mengurus rumah tangga ini. Tangan mu yang tidak lelah bekerja mengatur isi keluarga ini sangat berarti. Namun, jarang aku tawarkan diri ku hanya sekedar untuk memijat tangan mu yang selalu mendekap diriku saat aku masih bayi (begitu hinanya diri ku sering membantah ucapan serta nasihat yang ibu beri padaku,yang seharusnya aku resapi baik-baik yang seharusnya aku tahu, Mamah sering menegurku karena Mamah sayang pada ku).
Terima kasih Ayah, sejak aku lahir di dunia ini, Ayah menggendong ku dengan penuh rasa kasih sayang. Menyuapi makan ketika aku lapar, menggantikan Mamah mengurus rumah saat Mamah terbaring di rumah sakit karena melahirkan ku. Maafkan aku Ayah, sering kali aku mengejek diri mu, membantah tiap ucapan bijak dari mu yang seharusnya aku sadar, Ayah adalah imam di keluarga ini.
Begitu hinanya aku saat aku membohongi Ayah untuk sekedar memakai kendaraan-kendaraan mu sesuka hati ku atau meminta dijemput dari suatu tempat yang tujuannya hanya untuk kesenangan ku, padahal Ayah telah letih bekerja seharian ini.
Begitu bodohnya aku ketika aku punya waktu senggang yang aku lakukan malah menghabiskan uang dari Ayah untuk berfoya-foya. Sedangkan Ayah bekerja mati-matian demi mencari uang yang akan menghidupi diri ku.
Terima kasih Mamah, Mamah tidak pernah mengeluh membimbing ku, menjelaskan pada ku yang mana yang baik dan yang salah, menjaga ku ketika aku sakit, memberi kepadaku kasih sayang tulus seorang Mamah yang didambakan banyak orang. Sungguh, maafkanlah aku Mamah, tidak jarang aku menolak membantu Mamah ketika Mamah meminta bantuan ku.
Aku tidak memperhatikan betapa besarnya peran Mamah di rumah, sedang aku hanya sedikit yang bisa aku lakukan. Betapa hinanya aku lebih senang menemani teman-teman ku berbelanja menghabiskan uang sia-sia di pusat belanja daripada menemani Mamah di rumah untuk mengerjakan tugas rumah yang berat itu.
Sungguh banyak rasa terima kasih yang tak bisa aku ungkapkan lagi dalam kata-kata, begitu besar cinta ini bagi Ayah dan Mamah. Maafkan aku Ayah, Mamah, aku telah bersalah telah menyakiti hati Ayah dan Mamah, menyayat perih dari tiap perkataan dan perbuatan yang aku perbuat yang tak sengaja tanpa kusadari telah menyakiti hati Ayah dan Mamah.
Aku terus berusaha menjadi anak yang berbakti dan baik untuk Ayah dan Mamah, tidak cukup hanya membiayai Ayah, Mamah dan adik-adik nantinya ketika aku besar nanti untuk membayar dan menggantikan semua jerih payah ayah dan ibu agar aku bisa menjadi manusia yang berguna.
Dengan segenap hati, aku sangat mencintai dan menyayangi Ayah dan Mamah. Terima kasih telah merawat diriku terima kasih telah memberikan kasih sayang yang begitu besar padaku.
Terima kasih telah menjadi orang tua yang sangat membanggakan, semoga, aku bisa menjadi pribadi yang Ayah dan Mamah banggakan. Semoga aku bisa membuat Ayah dan Mamah tersenyum dengan keberhasilan ku telah menjadi seseorang yang Ayah dan Mamah impikan, Aamiin Ya Rabb.
AYAH
Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya. Akan sering merasa kangen sekali dengan Mama/Ibunya.
Lalu bagaimana dengan Papah/Ayah?
Mungkin karena Mamah lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaan mu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Ayah-lah yang mengingatkan Mamah untuk menelpon mu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajak mu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Mamah tentang kabar mu dan apa yang kau lakukan seharian?
Pada saat diri mu masih seorang anak perempuan kecil,
Ayah biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Ayah mengganggap mu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepeda mu. Kemudian Mama bilang :
“Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya”.
Mamah takut putri manisnya terjatuh lalu terluka.
Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkan mu, menatap mu, dan menjaga mu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.
Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mamah menatapmu iba. Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas :
“Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”
Tahukah kamu, Ayah melakukan itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi!
Saat kamu sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : “Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.
Berbeda dengan Mamah yang memperhatikan dan menasihati mu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaan mu.
Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaan mu.
Ketika kamu sudah beranjak remaja,
Kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.
Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjaga mu?
Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjaga mu?
Karena bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga.
Setelah itu kamu marah pada Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu.
Dan yang datang mengetok pintu dan membujuk mu agar tidak marah adalah Mamah.
Setelah itu kamu marah pada Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu.
Dan yang datang mengetok pintu dan membujuk mu agar tidak marah adalah Mamah.
Tahukah kamu, bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, Bahwa Ayah sangat ingin mengikuti keinginan mu, tetapi lagi-lagi dia HARUS menjaga mu?
Ketika saat seorang cowok mulai sering menelpon mu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemui mu, Ayah akan memasang wajah paling cool sedunia 
Ayah sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu. Sadarkah kamu, kalau hati Ayah merasa cemburu?
Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Ayah melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untuk mu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Ayah adalah duduk di ruang tamu, dan menunggu mu pulang dengan hati yang sangat khawatir. Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut.
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Ayah akan mengeras dan Ayah memarahi mu.
Maka yang dilakukan Ayah adalah duduk di ruang tamu, dan menunggu mu pulang dengan hati yang sangat khawatir. Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut.
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Ayah akan mengeras dan Ayah memarahi mu.
Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Ayah akan segera datang?
“Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Ayah”
Setelah lulus SMA, Ayah akan sedikit memaksa mu untuk menjadi seorang Dokter, Insinyur, Polisi, dsb.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Ayah itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depan mu nanti. Tapi toh Ayah tetap tersenyum dan mendukung mu saat pilihan mu tidak sesuai dengan keinginan Ayah
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Ayah itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depan mu nanti. Tapi toh Ayah tetap tersenyum dan mendukung mu saat pilihan mu tidak sesuai dengan keinginan Ayah
Ketika kamu menjadi gadis dewasa,
Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain. Ayah harus melepas mu di bandara.
Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memeluk mu?
Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruh mu untuk berhati-hati. Padahal Ayah ingin sekali menangis seperti Mamah dan memeluk mu erat-erat.
Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memeluk mu?
Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruh mu untuk berhati-hati. Padahal Ayah ingin sekali menangis seperti Mamah dan memeluk mu erat-erat.
Yang Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata:
“Jaga dirimu baik-baik ya, Nak”.
Ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT.
Kuat untuk pergi dan menjadi dewasa!!
Kuat untuk pergi dan menjadi dewasa!!
Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupan mu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah. Ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaan mu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Ayah tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan.
Kata-kata yang keluar dari mulut Ayah adalah : “Tidak…. Tidak bisa!”
Padahal dalam batin Ayah, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Ayah belikan untuk mu”.
Kata-kata yang keluar dari mulut Ayah adalah : “Tidak…. Tidak bisa!”
Padahal dalam batin Ayah, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Ayah belikan untuk mu”.
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Saatnya kamu di wisuda sebagai seorang sarjana. Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”
Sampai saat seorang teman Lelaki mu datang ke rumah dan meminta izin pada Ayah untuk mengambilmu darinya.
Ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Ayah tahu,
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
Dan akhirnya,
Saat Ayah melihat mu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Ayah pun tersenyum bahagia.
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Ayah pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
Ayah menangis karena Ayah sangat berbahagia, kemudian Ayah berdoa.
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Ayah berkata:
“Ya Allah tugas ku telah selesai dengan baik, Putri kecil ku yang lucu dan ku cintai telah menjadi wanita yang cantik. Bahagiakanlah ia bersama suaminya”
“Ya Allah tugas ku telah selesai dengan baik, Putri kecil ku yang lucu dan ku cintai telah menjadi wanita yang cantik. Bahagiakanlah ia bersama suaminya”
Setelah itu Ayah hanya bisa menunggu kedatangan mu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk.
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih,
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjaga mu dari bahaya.
Ayah telah menyelesaikan tugasnya.
Ayah, Papah, Abi, Bapak, atau Abah kita adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat,
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis,
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakan mu.
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal 
Ini cerita dari Jepang kuno. Semoga bisa diambil hikmahnya
(cerita ini saya dapat dari buku pelajaran bahas Jepang).
Konon pada jaman dahulu, di Jepang ada semacam kebiasaan untuk membuang orang lanjut usia ke hutan. Mereka yang sudah lemah tak berdaya dibawa ke tengah hutan yang lebat, dan selanjutnya tidak diketahui lagi nasibnya.
Alkisah ada seorang anak yang membawa orang tuanya (seorang wanita tua) ke hutan untuk dibuang. Ibu ini sudah sangat tua, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Si anak laki-laki ini menggendong ibu ini sampai ke tengah hutan.
Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil.
Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.
"Bu, kita sudah sampai", kata si anak.
Ada perasaan sedih di hati si anak.
Entah kenapa dia tega melakukannya.
Selama dalam perjalanan, si ibu mematahkan ranting-ranting kecil.
Setelah sampai di tengah hutan, si anak menurunkan ibu ini.
"Bu, kita sudah sampai", kata si anak.
Ada perasaan sedih di hati si anak.
Entah kenapa dia tega melakukannya.
Si ibu, dengan tatapan penuh kasih berkata:
"Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintai mu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang. Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan".
Mendengar kata-kata ibunya tadi, hancur/terharulah hati si anak. Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang, dan merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.
"Nak, Ibu sangat mengasihi dan mencintai mu. Sejak kamu kecil, Ibu memberikan semua kasih sayang dan cinta yang ibu miliki dengan tulus. Dan sampai detik ini pun kasih sayang dan cinta itu tidak berkurang. Nak, Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat dan mendapat celaka di jalan. Makanya ibu tadi mematahkan ranting-ranting pohon, agar bisa kamu jadikan petunjuk jalan".
Mendengar kata-kata ibunya tadi, hancur/terharulah hati si anak. Dia peluk ibunya erat-erat sambil menangis. Dia membawa kembali ibunya pulang, dan merawatnya dengan baik sampai ibunya meninggal dunia.
Mungkin cerita diatas hanya dongeng. Tapi di jaman sekarang, tak sedikit kita jumpai kejadian yang mirip cerita diatas. Banyak manula yang terabaikan, entah karena anak-anaknya sibuk bisnis, dll. Orang tua terpinggirkan, dan hidup kesepian hingga ajal tiba. kadang hanya dimasukkan panti jompo, dan ditengok kalau ada waktu saja.
Kiranya cerita diatas bisa membuka mata hati kita, untuk bisa mencintai orang tua dan manula. Mereka justru butuh perhatian lebih dari kita, disaat mereka menunggu waktu dipanggil Tuhan yang maha kuasa. Ingatlah perjuangan mereka pada waktu mereka muda, membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, membekali kita hingga menjadi seperti sekarang ini.
KASIH SAYANG SEORANG IBU
Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya.
Suaminya sudah lama meninggal karena sakit
Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya.
Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi
Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang,
Namun ia sering berdoa memohon kepada Tuhan:
“Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa lagi. Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati”
Namun ia sering berdoa memohon kepada Tuhan:
“Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa lagi. Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati”
Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya
Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap
Kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk diadili dan dijatuhi hukuman pancung
pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari
di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi
Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan
“Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosanya”
“Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosanya”
Dengan tertatih tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan
Tapi keputusan sudah bulat, anaknya harus menjalani hukuman.
Dengan hati hancur, ibu kembali ke rumah tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan.
Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong-bondong manyaksikan hukuman tersebut Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak sudah pasrah dengan nasibnya.
Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba.
Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik, akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng datang.
Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada,
Saat mereka semua sedang bingung, tiba-tiba dari tali lonceng itu mengalir darah Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat.
Dengan jantung berdebar-debar seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah.
Tahukah anda apa yang terjadi?
Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah.
Dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi,
dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di dinding lonceng.
Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata.
Sementara si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan,
menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya.
Ternyata malam sebelumnya, si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya.
Ternyata malam sebelumnya, si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya.
WALLAH!! Baca cerita ini, ak menjadi nangis. Terharu!
Ibu itu rela menaruhkan nyawanya demi anaknya :')
Ibu itu rela menaruhkan nyawanya demi anaknya :')
MAWAR UNTUK IBU
Pagi itu, seorang pria tampak turun dari mobil mewahnya. Ia bermaksud untuk membeli sebuah kado di kompleks pertokoan itu. Besok adalah hari Ibu, dan ia bermaksud untuk membeli lalu mengirimkan sebuah hadiah lewat pos untuk ibunya di kampung. Seorang Ibu yang pernah ia tinggal pergi beberapa tahun lalu untuk kuliah, mencari nafkah, dan mengejar kesuksesan di kota besar ini. Langkah-langkah pria itu terhenti di depan sebuah toko bunga.
Ia melihat seorang gadis cantik. Ternyata, gadis itu adalah adik tingkatnya semasa kuliah dulu. Gadis itu terlihat sedang memandangi lesu rangkaian bunga-bunga indah di etalase. Matanya terlihat dengan jelas tengah berkaca-kaca, air mata nya hendak meleleh, seperti akan menangis.
Setelah cerita cerita lalu dilantunkan, pria itu lalu bertanya “Ada apa dengan mu? Ada apa dengan bunga-bunga itu?”
“Aku ingin memberi salah satu rangkaian bunga mawar ini untuk ibu saya,” gadis cantik itu melanjutkan, “Seumur hidup, saya belum pernah memberikan bunga seindah ini untuk ibu.”
“Kenapa tidak kau beli saja? Ini bagus, kok.” Cerita pria tersebut sambil turut mengamati salah satu karangan bunga.
“Uang saya tidak cukup.”
“Ya sudah, pilih saja salah satu, aku yang akan membayarnya.” Pria itu menawarkan diri sambil tersenyum.
Akhirnya gadis itu mengambil salah satu karangan bunga. Dengan ditemani sang pria, gadis itu lalu menuju kasir. Pria itu juga menawarkan diri mengantar si gadis pulang ke rumah untuk memberikan bunga itu kepada ibunya. Gadis itu pun bersedia.
Dua orang itu lalu melaju menggunakan mobil menuju ke sebuah tempat yang ditunjukkan oleh si gadis. Hati pria itu terperanjat ketika gadis cantik itu ternyata mengajaknya ke sebuah kompleks pemakaman umum.

Setelah memarkir mobil, pria itu lalu mengikuti langkah-langkah si gadis. Dengan sangat terharu gadis itu lalu meletakkan karangan bunga itu ke makam ibunya. Seorang ibu yang memang belum pernah dilihat gadis itu seumur hidupnya. Ibu itu dulu meninggal saat melahirkan gadis itu.
Melihat kejadian itu, setelah mengantarkan gadis itu pulang ke rumah, sang pria membatalkan niatnya untuk membeli dan mengirimkan kado bagi ibunya.
Siang itu juga, pemuda sukses itu langsung memacu mobilnya.. pulang ke kampungnya.. untuk melihat wajah ibu yang dia rindukan selama ini.. untuk bersujud di bawah kakinya dan memeluk erat tubuh dan hati lembutnya..
Langganan:
Postingan (Atom)