conti Ordinary Girl: ISLAMI
Tampilkan postingan dengan label ISLAMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISLAMI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Juli 2014

Yaa Ramadhan..


Yaa Ramadhan,
Saat-saat engkau akan meninggalkan kami telah dekat, tak ada kesedihan yg saat ini kami rasakan kecuali perpisahan kepadamu lah yang membuat air mata kami menetes..

Yaa Ramadhan,
Akankah kami berjumpa kepada mu lagi di tahun yang akan datang? Sementara umur manusia tidak ada yang mengetahui seberapa lama lagi kah kami berada di dunia ini..

Yaa Ramadhan,
Mungkin kami akan merindukanmu, merindukan semua kenangan yang terindah di saat-saat indah di dalam ibadah kepada ALLAH bersama mu..

Yaa Ramadhan,
Berat rasanya hati ini melepasmu, tetapi apa daya semua telah ditakdirkan oleh ALLAH  bahwa setiap yang berawal pasti berakhir dan setiap perjumpaan pasti ada perpisahan.. :)







Setiap Awal Pasti Ada Akhir - Ramadhan 1435

Assalamu alaikum.
Bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga baik-baik saja :)

Hm, waktu berjalan begitu cepat..

Bagi orang-orang yang menikmati hidup, tentu waktu akan terasa cepat berakhir. Sebaliknya, bagi orang-orang yang tidak senang dengan hidupnya, waktu akan berjalan sangat lambat. Itu dibaratkan seperti orang yang bahagia saat kedatangan tamu dan sedih saat tamunya pulang pasti mencintai si tamu. Sebaliknya orang yang sedih saat kedatangan tamu dan bahagia saat tamunya pulang, pasti tidak menyenangi si tamu.

Ohiya, saking asyiknya beraktivitas, nggak terasa sekarang sudah tanggal 29 Ramadhan. "Perasaan baru saja kemarin mulai tarawih yang pertama, sekarang sudah tarawih yang terakhir..", Mungkin kata-kata itu masih terucap di antara kita, betul nggak? Waktu berjalan begitu cepat, begitu juga dengan Ramadhan yang akan berakhir dalam hitungan hari.

Tamu Agung yang dianugerahkan ALLAH bagi orang-orang yang beriman itu akan meninggalkan kita. Semoga ALLAH SWT  senantiasa membantu kita menata hati untuk selalu cenderung pada hidayahnya bukan malah berbangga saat kesempatan emas untuk memperbanyak amal telah usai..

Rasanya baru kemarin saya bertekad untuk menyempurnakan tarawih dan qiyamul lail, iya baru kemarin. Berakhirnya bulan Ramadhan yang penuh berkah dan ampunan ini bisa jadi menimbulkan dilema tersendiri bagi seorang Muslim, kenapa begitu? Karena dengan berakhirnya Ramadhan, hati seorang Muslim akan bercampur antara perasaan senang dan sedih. Senangnya kenapa? Karena sebentar lagi akan tiba hari kemenangan di mana seluruh umat Muslim sedunia merayakan kemenangan melawan hawa nafsu dan kembali ke fitri (suci; seperti orang yang dibersihkan dosanya, seperti kertas putih yang belum ada noda); Idul Fitri. Sedihnya kenapa? Karena akan kehilangan hari-hari di mana amal shalih dilipatgandakan, sedih karena bulan ampunan akan berakhir, sedih karena hari-hari doa dikabulkan akan berakhir, sedih karena aku masih merasa belum sempurna dalam menjalankan ibadah yang dianjurkan di bulan yang penuh berkah ini. Di Ramadhan tahun ini, aku terlalu sibuk dengan urusan dunia, dan berbagai macam kesedihan lainnya.

Sedih, ya saya selalu sedih di saat Ramadhan akan berakhir. Aku masih belum siap untuk meninggalkan Ramadhan ini. Yaa Rabb..

Setiap awal pasti ada akhir. Ramadhan yang kita rindukan kedatangannya pun telah datang, namun kedatangannya pun akan segera berakhir dengan kepergiannya. Yaa, Ramadhan sebentar lagi engkau akan berakhir..

Alangkah rindunya hati akan keberkahan bulan yang penuh dan begitu istimewa.
Bulan ketika pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, Masya Allah! Ketika syaitan dibelenggu.
Ketika amalan Ibadah, ALLAH lipat gandakan, serta bulan yang penuh rahmat dan ampunan ALLAH, Subhanallah..

Semua alam menangis akan berangkatnya Ramadhan. Bukan hanya manusia yang menangis, tetapi juga langit dan bumi serta malaikat pun ikut MENANGIS..

ALLAH, ALLAH tak menjanjikan apa-apa untuk Ramadhan tahun depan, apakah aku masih diikutsertakan pada Ramadhan tahun depan atau telah tertidur dibawah tumpukan tanah..

1 bulan yang telah kita lalui bersama hari-hari yang indah, yang setiap harinya di isi dengan cinta dan kenangan manis dalam ibadah dan ketundukan kepada ALLAH yang maha segala-segala Nya.

Tidak ada cinta kepada sang Maha Pencipta, kecuali saat-saat ramadhan lah yang menumbuhkannya.

Dengan berakhirnya Ramadhan, maka berakhir pula "peperangan" melawan hawa nafsu yang membelenggu jiwa selama satu bulan ini. Namun asyiknya "peperangan" ini tidak akan kita rasakan kelebihan berkahnya di sebelas bulan yang akan datang. Tetapi harus diingat, jangan sampai Ramadhan berakhir kita malah kembali melakukan maksiat-maksiat seperti sebelum Ramadhan. Kita berharap dengan adanya Ramadhan ini bisa menjadi "kotak perubahan" Muslim menjadi lebih baik dari sebelumnya yang siap menghadapi berbagai macam rintangan berupa nafsu keburukan untuk sebelas bulan yang akan datang.

Kini, kami adalah Alumnus Ramadhan. Semoga jiwa kami menjadi jiwa-jiwa yang akan terus bersemangat untuk meneruskan apa-apa yang kami lakukan selama Ramadhan, menjadi manusia yang menjadikan hari-hari di sebelas bulan esok adalah hari-hari yang berkualitas ibadah dan bersikap yang sama dengan menjaga agar tetap stabil, dan terus-menerus berusaha tetap menstabilkan kualitas ketaqwaan saya kepada ALLAH sampai kemudian ALLAH menakdirkan untuk bertemu kembali pada Ramadhan berikutnya.

Di penghujung bulan Ramadhan ini, hanyalah ampunan dan pembebasan dari siksa neraka yang kami harapkan dari ALLAH yang Maha Pengampun.. Kami pun berharap semoga ALLAH menerima amalan kita semua di bulan Ramadhan, walaupun kami rasa amalan kami begitu sedikit dan begitu banyak kekurangan di dalamnya.

Semoga kami menjadi Alumnus Ramadhan yang menerapkan ihsan yang merasa terus menerus diawasi oleh ALLAH dalam setiap helaan nafas, dan sadar bahwa bumi ini akan menjadi saksi atas semua perbuatan yang kita lakukan di muka bumi ALLAH, kemudian tetap menghidupkan malam-malamnya dengan qiyamul lail, merasakan kembali kenikmatan berbuka dengan menghidupkan puasa-puasa sunnah yakni puasa yaumul bidh (puasa tanggal 13, 14 dan 15 bulan Hijriyah), puasa senin kamis atau bahkan puasa daud :) 

Selamat tinggal Ramadhan.. 
Semoga kita  mampu menjadi Alumnus Ramadhan yang baik, menjadi hamba yang lebih baik lagi dimata ALLAH, bukan dimata yang lain.

Taqobbalallahu minna wa minkum (Semoga ALLAH menerima amalan kami dan amalan kalian). 
Semoga ALLAH menjadikan kita sebagai insan yang selalu ber-istiqomah dalam menjalankan ibadah selepas bulan Ramadhan.  
Aamiin, in shaa ALLAH..  



                                                                                                        

Rabu, 16 Juli 2014

Ramadhan Akan Berakhir? Tenang, Masih Ada Waktu..

Assalamu alaikum :)
Bulan Ramadhan telah dekat waktu perginya dan akan segera berpisah dengan kita, dan sesungguhnya dia akan menjadi saksi yang membela kita atau menjatuhkan kita dengan apa saja yang kita titipkan padanya dari amalan-amalan. Barangsiapa yang telah menitipkan padanya amal yang shalih maka hendaknya memuji ALLAH atas hal itu dan bergembiralah dengan pahala yang agung, karena sesungguhnya ALLAH tidak pernah menyia-nyiakan sedikitpun dari setiap kebaikan, sebaliknya barang siapa yang telah menitipkan padanya amalan kejelekan maka hendaknya segera bertaubat kepada ALLAH dengan taubat yang nasuha karena ALLAH akan selalu menerima taubat dari para hamba-Nya :)

Ramadhan akan berakhir. Pertanyaannya adalah, apakah kita sudah maksimal dalam membiasakan diri dalam ketaatan atau belum? Bagi yang merasa sudah maksimal, harus ditingkatkan lagi agar lebih maksimal. Nah, bagi yang merasa belum maksimal atau Ramadhan tahun ini amalannya kurang bagus dari tahun kemarin, masih ada waktu sekitar 1 minggu. So, you dont have to worry, okay? :) Bagi yang belum i'tikaf, maka i'tikaflah mulai malam ini, begitu juga dengan yang belum pernah salat tarawih sekalipun, mulailah di malam ini karena kita masih punya waktu sekitar kurang lebih 1 minggu ke depan. Kita kejar ketinggalan kita di hari-hari sebelumnya agar tidak ketinggalan pahala berlipat yang disediakan ALLAH secara terbuka di Ramadhan ini. 

Ramadhan memang akan berakhir, tapi belum terakhir. Masih ada kesempatan untuk menambah amal. Lebih-lebih di sepuluh malam terakhir. ALLAH SWT Memberikan bonus pahala besar-besaran pada salah satu malam di sepuluh malam terakhir. Malam itu adalah malam Qadar (lailatul qadr). Tentunya bagi mereka yang beriman dan beramal shaleh. Memperbanyak shalat, dzikir, tilawah, sedekah dan amalan-amalan lainnya.

Pada malam itu (lailatul qadr), malaikat-malaikat dan malaikat Jibril turun untuk mengatur segala urusan. Disebut malam seribu bulan karena pahala di malam ini disamakan dengan pahala yang dilakukan selama seribu bulan yang setara dengan 83 tahun lebih. Selain itu pula Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang shalat di malam Lailatul Qadar karena keimanan dan mengharapkan pahala maka dia akan diampuni dosa yang telah lampau ataupun yang akan datang.” 

Seperti yang sudah kita ketahui, bulan Ramadhan itu bisa disebut juga Bulan Tarbiyah. Tarbiyah di sini diartikan bahwa selama bulan Ramadhan kita dididik atau dibimbing (bisa oleh diri sendiri maupun orang lain) untuk menjalankan berbagai macam ketaatan kepada ALLAH dan Rasul-Nya. Ramadhan ini dijadikan pembiasaan untuk kembali menjadi Muslim yang lebih taat kepada syariat Islam. Jika sudah biasa menjalankan syariat Islam dengan baik, maka seorang Muslim tidak akan merasa berat atau terbebani dengan berbagai macam aturan dan malah mereka akan menikmati, mengapa bisa begitu? Karena sudah terbiasa. Bisa karena terbiasa :)

Ayo, kita jadikan Ramadhan ini sebagai pendidikan bagi diri sendiri supaya nggak jatuh lagi ke jurang kemaksiatan yang dilakukan sebelum Ramadhan. Semoga kita bisa mejadi lebih istikamah dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, meski Ramadhan telah meninggalkan kita.

Kamu tahu, kan? Sesungguhnya ALLAH itu Maha Hidup, tidak mati. Teruskanlah beribadah pada-Nya dalam segala waktu. Sebagian orang beribadah di bulan Ramadhan secara khusus, mereka menjaga shalat-shalatnya di masjid-masjid, memperbanyak baca Al-Quran, dan menyedekahkan hartanya. Lalu ketika Ramadhan usai, mereka bermalas-malasan, kadang-kadang mereka meninggalkan shalat Jum’at dan tidak berjama’ah. Mereka itu telah merusak apa yang telah mereka bangun sendiri, dan menghancurkan apa yang mereka bina. Seakan-akan mereka menyangka, ketekunannya di bulan Ramadhan itu bisa menghapuskan dosa dan kesalahannya selama setahun. Juga mereka anggap bisa menghapus dosa meninggalkan kewajiban-kewajiban dan dosa melanggar hal-hal yang haram. Mereka tidak menyadari bahwa penghapusan dosa karena berbuat kebaikan di bulan Ramadhan dan lainnya itu hanyalah terhadap dosa-dosa kecil dan itupun terikat dengan menjauhkan diri dari dosa-dosa besar.

Lebih besar dosa mana dari dosa besar syirik (menyekutukan ALLAH Ta’ala) dan meninggalkan shalat?
Apakah ada yang tahu?
Meninggalkan shalat itu sudah menjadi kebiasaan yang lumrah bagi sebagian orang. Ketekunan mereka di bulan Ramadhan tidak ada gunanya sama sekali bagi mereka jikalau mereka melanjutkannya dengan kemaksiatan-kemaksiatan berupa meninggalkan kewajiban-kewajiban dan melanggar larangan-larangan ALLAH Ta’ala. Sebagian ulama ditanya tentang kaum yang tekun ibadah di bulan Ramadhan, tetapi setelah usai, mereka meninggalkannya dan berbuat buruk. Maka dijawab: Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal ALLAH kecuali di bulan Ramadhan. Ya, benar. Karena orang yang mengenal ALLAH tentunya ia akan takut pada-Nya setiap waktu (bukan hanya di bulan Ramadhan).

Bila bukan karena kesadaran, sebagian orang terkadang berpuasa Ramadhan dan menampakkan kebaikan serta meninggalkan maksiat,  bukan karena keimanan dan kesadaran. Mereka mengerjakan itu hanyalah dalam rangka basa-basi dan ikut-ikutan. Karena hal ini terhitung sebagai tradisi masyarakat. Perbuatan ini adalah kemunafikan besar, karena orang-orang munafik memang pamer kepada manusia dengan menampak-nampakkan ibadahnya. Naudzubillah min dzalik, semoga kita tidak termasuk orang-orang yang seperti itu..


Berakhirnya Ramadhan menjadi saksi atas amal-amal kita. Selamat bagi yang amalnya baik, yang amalnya itu akan menolongnya untuk masuk Surga dan bebas dari Neraka. Dan celaka bagi orang yang buruk amalnya lantaran kelengahan dan menyia-nyiakan waktu Ramadhan. Maka perpisahan dengan Ramadhan hendaknya diakhiri dengan kebaikan, karena ketentuan amal itu pada pungkasannya. Barangsiapa berbuat baik di bulan Ramadhan hendaklah menyempurnakan kebaikannya, dan barangsiapa berbuat jahat hendaklah ia bertaubat dan menjalankan kebaikan pada sisa-sisa umurnya. Barangkali tidak akan menjumpai lagi hari-hari Ramadhan setelah tahun ini. Maka hendaklah diakhiri dengan kebaikan dan senantiasa melanjutkan perbuatan baik yang telah dilakukan di bulan Ramadhan pada bulan-bulan lain. Karena Rabb yang memiliki bulan-bulan itu hanyalah satu, dan Dia mengawasimu dan menyaksikanmu.
Dia memerintahkanmu untuk taat selama hidupmu.


Kegembiraan mukminin beda dengan munafikin. Orang mukmin bergembira dengan selesainya Ramadhan karena telah memanfaatkan bulan itu untuk ibadah dan taat, maka dia mengharap pahala dan keutamaannya. Sedang orang munafik bergembira dengan selesainya bulan itu karena akan berangkat untuk bermaksiat dan mengikuti syahwat yang selama Ramadhan itu telah terkungkung.

Oleh karena itu, orang mukmin melanjutkan kegiatan setelah bulan Ramadhan dengan istighfar, takbir dan ibadah, namun orang munafik melanjutkannya dengan maksiat-maksiat, hura-hura, pesta-pesta musik dan nyanyian karena girang dengan berpisahnya Ramadhan dari mereka. O ALLAH, banyak sekali kita melihat disekitar dengan merayakan perpisahan Ramadhan ini dengan hura-hura, pesta-pesta musik dan sebagainya. Yaa ALLAH, ampunilah mereka dan berikanlah mereka hidayah-Mu.. Aamiin..
Bertaqwalah kepada ALLAH wahai hamba ALLAH, dan berpisahlah dengan Ramadhan mu dengan taubat dan istighfar..
Semoga ALLAH selalu senantiasa membimbing kita ke jalan-Nya, jalan yang diridhai-Nya :) Aamiin, in syaa ALLAH niat baik akan selalu ada jalannya..

Bersungguh-sungguh dalam mengerjakan ketaatan-ketaatan dan menjauhi segala macam dosa dan kemaksiatan agar kita semua mendapatkan kebahagiaan di dunia dan pahala yang melimpah di hari perhitungan kelak.

Yaa ALLAH,
Teguhkanlah kami diatas keimanan dan amal shalih, hidupkanlah kami dalam kehidupan yang baik, dan wafatkanlah kami dalam keadaan Islam dan gabungkanlah kami dengan orang-orang salih, Aamiin.


                                                                                                        

Jumat, 27 Juni 2014

Marhaban Yaa Ramadhan


Marhaban Yaa Ramadhan..

Allahuakbar..
Allahuakbar..
Allahuakbar..



Tak terasa kita telah dipenghujung bulan Sya’ban, tak terasa waktu begitu cepat berlalu, tak terasa kita akan segera memasuki bulan Ramadhan. In syaa ALLAH untuk kesekian kalinya tamu agung tersebut akan berkunjung diantara rangkaian usia kita. Bulan suci yang Agung dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi Wa Sallam kabarkan kepada khalayak sebagai berita suka cita.
Ada yang menyambutnya dengan gembira karena merasa ini adalah momentum terbaik bagi gugurnya dosa, meningkatnya derajat pahala dan tersambungnya kembali jalinan silaturahim. Bulan penuh berkah, bulan penuh rahmat, bulan kembali kepada alquran dan ibadah. What a beautiful moment! :)

Di sisi lain, ada juga sebagian dari kita yang biasa-biasa saja menyambut Ramadhan, tidak ada perasaan sedikitpun yang istimewa dari bulan Ramadhan. Padahal Rasulullah SAW. mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berdoa, agar kita bisa dipertemukan dengan nikmatnya bulan Ramadhan.

“Ya ALLAH SWT berkatilah kami di bulan Rajab, berkatilah kami di bulan Sya'ban dan ijinkanlah kami untuk bertemu dengan bulan Ramadhan.”

Subhanallah, itulah keistimewaan Ramadhan sampai-sampai Rasulullah memohon kepada ALLAH seperti itu, karena kita tidak pernah tahu, apakah umur kita akan sampai ke bulan yang penuh berkah itu? Kami semua berdoa semoga ALLAH memberikan kita umur panjang hingga bisa menikmati Indahnya bulan Ramadhan, Aamiin.

Semua umat Islam berharap seandainya setiap bulan merupakan bulan Ramadhan, alangkah nikmatnya..

Maha besar Allah yang akan mempertemukan kita kembali pada bulan yang mulia.
Sebagai hamba-Nya, tak henti-hentinya aku bersyukur atas segala nikmat yang telah Ia berikan.
Alhamdulillah, aku dan keluarga diberi kesempatan untuk bertemu Ramadhan di tahun ini :) Kita harus bisa meluangkan waktu sebaik-baiknya untuk melakukan kebaikan di bulan Ramadhan ini karena kita tidak tau apakah nanti di Ramadhan yang akan datang kita diberi masih kesempatan atau tidak. Bulan Ramadhan kali ini harus lebih baik dari yang sebelum-sebelumnya, in syaa ALLAH.

By the way, ini beberapa persiapan untuk di bulan Ramadhan. 

- Mental / Fisik -
Mental harus siap karena kita berpuasa di setiap harinya selama 1 bulan penuh, lho!
Selama berpuasa, kita tidak hanya harus mampu untuk menahan lapar dan haus, tetapi juga harus mampu menahan nafsu. Nafsu marah, nafsu berbohong, nafsu ngomongin orang, nafsu mencuri, dan sebagainya.

Seorang muslim membutuhkan kondisi fisik yang prima. Apabila kondisi fisiknya lemah, seorang muslim tidak akan dapat menjalankan berbagai rutinitas ibadah yang penuh dengan kemuliaan -kemuliaan yang dilimpahkan ALLAH di bulan Ramadhan. That's why kita harus menjaga kesehatan tubuh.
Apakah kalian tahu? Pada bulan Rajab Nabi Muhammad SAW dan para sahabat membiasakan diri melatih fisik dan mental dengan melakukan puasa sunnah, memperbanyak membaca al-Qur'an, membiasakan bangun malam (qiyamul-lail) dan meningkatkan urusan dunia (mencari nafkah) untuk persiapan memperbanyak kegiatan sedekah pada bulan Ramadhan.

Ohya, usahakan sehabis adzan maghrib jangan langsung makan besar ya! Batalkan puasa dengan air mineral terlebih dahulu (sesuai selera sih sebenarnya, mau air mineral atau teh. Intinya, minum terlebih dahulu) Selanjutnya, makan kurma sedikitnya 3 buah. Nah, setelah it langsung shalat maghrib. Makan besarnya bisa setelah Shalat Maghrib atau Shalat Tarawih. Karena jika kamu makan besarnya sebelum Shalat Maghrib, takutnya nanti kamu nggak bisa Sujood karena kamu kekenyangan. Aku sarankan, makan besarnya setelah Shalat Tarawih, but yea itu tergantung dari diri kalian masing-masing, hehe.
Makan secukupnya, ya! Berhenti jika sudah kenyang. Di saat berbuka puasa memang keseringan lapar mata. Mau makan ini, mau makan itu, tetapi sebenarnya makan sedikit saja sudah kenyang lho.

- Alat Sholat -
Ini yang sangat diperlukan untuk umat Muslim!!
Namanya alat sholat, ya sudah pasti digunakan untuk sholat :D
Di bulan Ramadhan selalu diadakan Shalat Tarawih. Well, usahakan selalu mempersiapkan alat shalat sebelum pergi ke masjid / musholla agar tak ada yang tertinggal.

- Al-Qur’an -
 Perbanyaklah membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan :) Pelajari makna ayat yang terkandung di dalam Al-Qur’an. Tahun lalu, aku hanya sempat 1 kali khatam Al-Qur’an. Semoga di tahun ini aku bisa 2 kali khatam atau mungkin saja bisa lebih, hehe aamiin, in syaa ALLAH.
Pahala di bulan Ramadhan ini berkali-lipat disbanding bulan-bulan yang lainnya. Usahakan selalu melakukan kebaikan. Melakukan kebaikan tak hanya di saat bulan Ramadhan saja ya! :)
 

- Persiapan fikiran dan Ilmu -
Agar ibadah di bulan Ramadhan dapat lebih optimal, sehingga butuh wawasan dan tashawur (persepsi) yang benar tentang Ramadhan. Caranya dengan membaca berbagai bahan rujukan dan menghadiri majelis ilmu tentang Ramadhan, sehingga ibadah Ramadhan kita dapat sempurna sesuai tuntunan Rasulullah. Menghafal ayat-ayat dan doa-doa yang berkait dengan ramadhan, memperdalam berbagai masalah dalam ilmu fiqih tentang puasa dan lain-lain juga penting dilakukan.

Sehingga, ketika Ramadhan tiba kita sudah menuju pada proses pendewasaan ruhani, dimana kebiasaan ibadah meningkat, semangat berdzikir bertambah, semakin cinta shalat berjamaah, melaksanakan aktivitas-aktivitas infak, shadaqah dengan lebih ikhlas, menahan lapar, haus, seksual, mulai fajar hingga terbenam matahari dengan mulus bisa dilalui. Hingga membaca Alquran sampai khatam (tamat) bisa dinikmati dengan semangat membara. Hal yang wajar jika amaliah di bulan suci Ramadhan begitu spektakuler dilaksanakan kaum muslimin. Karena inilah merupakan suatu proses tercapainya derajat taqwa yang akan membawa kepada kesuksesan dunia maupun akhirat.
 

- Vitamin -
Terkadang  puasa adalah “tantangan” bagi yang mempunyai penyakit sistem pencernaan. Terutama bagi penderita Maag, ya seperti aku ini. Must need more attention!!!
Makan tepat pada waktunya adalah hukum yang wajib bagi penderita maag :)) Seperti aturan tidak tertulis yang tidak boleh dilanggar -___-
Agak khawatir memang, jika penyakit Maag tiba-tiba kumat di saat puasa :s
Satu-satunya solusi adalah harus menyiapkan obat maag dan beberapa vitamin serta banyak minum air putih.
 

- Persiapan Harta -
Jangan salah pengertian tentang persiapan harta, maksud persiapan harta disini bukan untuk membeli keperluan makanan buka puasa atau bermacam kue-kue lebaran sebagaimana yang menjadi tradisi kita selama ini, namun semata-mata untuk persipan melipatgandakan kegiatan sedekah, karena pada bulan Ramadhan merupakan bulan terbaik untuk memperbanyak sedekah :) Pahala bersedekah pada bulan ini berlipat ganda dibanding bulan biasa. Mempersiapkan zakat ya!

- Alarm -
Ini hal yang sangat sepele, tetapi kalau nggak dipersiapkan yea bisa fatal  juga. Terutama alarm untuk bangun sahur, agar nggak telat bangunnya.
Kalau masih tinggal dengan orang tua, ya masih bisa lah ya dibangunin, tetapi kalau nge-kost hm nggak ada yang ngebangunin. Ada, ya ada yang ngebangunin kalau nge-kost berdua dengan teman atau bisa juga kalau kamu punya Ibu kost yang baik / Islami, xoxo.

- Heart -
Semua persiapan di atas memang penting, tetapi ini yang paling PENTING!!!
Mempersiapkan hati agar ikhlas dalam menjalankan ibadah bulan Ramadhan. Menjaga dan menjauhkan hati kita dari berbuat ujub, riya’, sombong, iri, dengki, hasut, nafsu untuk melakukan maksiat dll. serta yang diharamkan oleh ALLAH, dan juga mempersiapkan hati agar sewaktu menjalankan ibadah tak hanya  sebagai pemenuhan  kewajiban saja, tetapi sebagai penghubung atau istilahnya  “kontak batin” dengan ALLAH SWT :)

Itu beberapa hal yang harus kita siapkan..


             Bulan Ramadhan adalah bulan baik, bulan suci, bulan penuh ampunan dari ALLAH SWT. Aku selalu deg-deg an setiap kali bulan Ramadhan datang. Perasaan senang, terharu, dan bersyukur masih bisa dikasi kesempatan oleh ALLAH SWT untuk bisa mengumpulkan pahala di bulan yang baik ini.

Sudah banyak diketahui oleh kita bersama bahwa banyak sekali manfaat yang dapat kita ambil dari ibadah yang satu ini (berpuasa). Salah satu diantaranya adalah dapat membuat kita menjadi seorang yang kuat menghadapi cobaan, tegar dalam mengarungi rintangan dan sabar dalam menerima tekanan. Tekanan dalam memperturutkan hawa nafsu kita yang selama hampir satu tahun penuh dibiarkan merajalela. In sya ALLAH  dengan adanya puasa ini, ALLAH dapat menjadikan kita termasuk ke dalam golongan ”orang-orang sabar”, orang yang sangat dicintai oleh Allah SWT, Aamiin.
Dengan besar hati, aku mengakui bahwa ibadahku memang belum sempurna dan masih banyak kekurangan dan dosa :’) Banyak hal yang aku senangi dalam bulan ini. Diantaranya:
  1. Di bulan Ramadhan, aku bisa dengerin orang-orang ngaji semalam suntuk di Masjid.
  2. Puasa tiap hari ada kemungkinan untuk nurunin berat badan dan ngecilin perut, xoxo  (meskipun kemudian menggembrot lagi waktu buka dan setelah lebaran, lol ._.).
  3. Lebih sering makan dengan keluarga. Di bulan Ramadhan, setiap anggota keluarga kami biasanya berusaha keras untuk bisa berbuka puasa bersama di rumah (kecuali kalo ada acara buka bersama di luar dengan teman-teman). Selain bulan Ramadhan, kami biasanya makan selalu sendiri-sendiri dan jarang bisa duduk kumpul dalam satu ruangan.
  4. Lebaran. Ajang kumpul dengan keluarga besar \:D/ Ngobrol, ketawa-ketawa, dan main dengan saudara-saudara yang hanya ketemu setahun sekali. Terkadang memang ada yang beberapa kali ketemu, tetapi sensasinya berbeda ketika ketemu di saat lebaran, hehe.

Aku memang selalu menyambut bulan Ramadhan dengan penuh sukacita (meskipun kadang-kadang agak was-was mikirin utang puasa tahun lalu, apakah sudah lunas atau belum. Aku tipe orang yang ‘agak’ pelupa. Di setiap bulan Ramadhan, aku selalu berharap agar bisa mengisi sepuluh malam terakhir dengan ibadah (saat Lailatul Qadr/Malam Seribu Bulan). Aku berharap, bulan Ramadhan ini aku bisa memperbaiki ibadahku dan yea at least, dosa-dosaku diampuni oleh ALLAH SWT, Aamiin.

Dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, setiap muslim wajib membekali dirinya dengan persiapan maksimal yang berkaitan dengan ibadah Ramadhan, agar secara lahir dan batin kita lebih siap melaksanakan ibadah dalam bulan Ramadhan.

Saat akan datangnya bulan Ramadhan seorang muslim harus berupaya sekuat tenaga untuk meningkatkan keilmuan dan pemahamannya mengenai apa yang mesti diperbuat dan dihindari selama bulan Ramadhan. Agar pahala Puasanya tidak berkurang bahkan hilang :)

By the way, Selamat Menunaikan Ibadah Puasa (bagi yang melaksanakannya).
Semoga Puasa dan Amal Ibadah di bulan yang penuh berkah dan kebaikan ini diterima oleh ALLAH SWT, Aamiin Yaa Rabb.

Sebagai makhluk ALLAH yang penuh khilaf dan dosa, aku hanya ingin menitipkan maaf kepada semua pembaca blog ini. Siapapun kalian, minal aidin walfaidzin,  mohon maaf lahir & bathin.


Mari kita berniat semoga Ramadhan tahun ini akan menjadikan kita lulus dalam keadaan yang bertambah keimanan dan meningkat ketaqwaan. Insya Allah.
Selamat menyambut bulan Ramadhan :) Mari berburu pahala dari sekarang!!!!!!







Jumat, 03 Januari 2014

Aku Sakit

Assalamu alaikum. 

Guys, bagaimana kabar kalian hari ini? I hope you guys doing okay (:
Just so you know, sudah 2 hari i didn't go to University. I'm sick. I have a fever, cough, flu, and laryngitis. Whaow, lengkap sekali ya? Hehe.

Beberapa hari yang lalu keadaanku lebih baik, tetapi entah kenapa tiba-tiba kemarin disaat aku bangun dan bersiap-siap untuk pergi ke Universitas, aku drop! Badanku sangat lemas. Aku tidak tau kenapa bisa terjadi seperti itu ;-;

Ya, aku tahu bahwa sakit merupakan bagian dari hidup. Meskipun kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kesehatan badan dengan mengkonsumsi makanan halal dan bergizi tinggi, menjalani pola hidup yang sehat, dan rajin melakukan cek medis, tetapi jikalau ALLAH menghendaki hamba-Nya sakit maka sakitlah hamba itu. 
Sakit sudah merupakan sunnatullah dalam kehidupan makhluk-Nya senang


Sakit dan musibah yang menimpa seseorang mengandung hikmah yang merupakan rahmat dari ALLAH Ta’ala. 

Imam Ibnul Qayyim berkata :  
“Andaikata kita bisa menggali hikmah ALLAH yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah. Namun akal kita sangat terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu ALLAH, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia dibawah sinar matahari. Dan inipun hanya kira-kira, yang sebenarnya tentu lebih dari sekedar gambaran ini”
(Syifa-ul Alil fi Masail Qadha wal Qadar wa Hikmah wa Ta’lil hal 452).


ALLAH befirman :
“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” 

(QS Al-Anbiya’: 35)

 

Rasulullah SAW bersabda, 
“Bencana itu akan selalu menghiasi hidup seorang mu’min atau mu’minah, pada jasad, harta dan anaknya sehingga ia bertemu dengan ALLAH dan dirinya tidak dikotori dosa sedikitpun.” (HR Ahmad no.7521). Dalam riwayat lain, “Sesungguhnya besarnya pahala bergantung pada besarnya ujian. Dan apabila ALLAH mencintai suatu kaum, Dia akan mengujinya. Dan barangsiapa yang rela, maka ia mendapatkan ridho-Nya. Dan barangsiapa yang marah, maka ia akan mendapatkan murka-Nya.” (HR Tirmidzi dan dihasankan oleh Al-Albani).

Rasulullah sendiri juga pernah mengalami sakit. Sakit beliau sangat dahsyat. Sebagaimana yang diceritakan Aisyah, “Saya belum pernah melihat orang yang sakitnya sangat dahsyat melebihi sakitnya Rasulullah.” (HR Bukhari dan Muslim).


Hikmah dibalik sakit dan musibah diterangkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam, dimana beliau bersabda:

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan ALLAH  akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya”. (HR. Bukhari no. 5660 dan Muslim no. 2571).

“Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanan hingga duri yang menusuknya, melainkan ALLAH akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya”.
(HR. Bukhari no. 5641).

“Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengan dosa-dosanya”. (HR. Muslim no. 2573).

“Bencana senantiasa menimpa orang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya dan hartanya, sehingga ia berjumpa dengan ALLAH dalam keadaan tidak ada kesalahan pada dirinya”. (HR. Tirmidzi no. 2399 ).

“Sesungguhnya ALLAH benar-benar akan menguji hamba-Nya dengan penyakit, sehingga ia menghapuskan setiap dosa darinya”.
(HR. Al-Hakim 348).



Itu adalah hikmah terpenting sebab diturunkannya sakit dan musibah. Dan hikmah ini sayangnya tidak banyak diketahui oleh saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Seringkali mendengar ketika seseorang ditimpa sakit dan musibah, dia malah mencaci maki, berkeluh kesah, bahkan yang lebih parah meratapi nasib dan berburuk sangka kepada takdir ALLAH. Nauzubillah!! Aku berlindung berlindung kepada-Mu Yaa ALLAH dari perbuatan semacam itu. Padahal apabila mereka mengetahui hikmah dibalik semua itu, maka Insya'ALLAH  sakit dan musibah terasa ringan disebabkan banyaknya rahmat dan kasih sayang dari ALLAH Ta’ala (:
  
Sewajarnya, kita seharusnya menanggapi sakit adalah suatu ujian yang tidak perlu untuk ditakuti melainkan kita harus senantiasa berikhtiar dan bersabar untuk menyembuhkannya, agar ujian itu menjadi pahala bukan untuk menambahkan dosa.

Aku selalu memohon kepada ALLAH semoga diberikan kesembuhan dan kesehatan, serta kebaikan lahir dan batin. Sungguh ALLAH Maha Mendengar lagi mengabulkan doa. 

Semoga dengan aku sakit seperti ini, dosa-dosaku berguguran seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya tersenyum lebar  Aamiin.

Btw sampai disini dulu ya! Aku sangat lemas, but don't worry about me yaaa my fans! mueheheh :b Mungkin aku hanya memerlukan banyak istirahat senang Wassalamu alaikum.

Kamis, 02 Januari 2014

13 Sifat Calon Suami yang Bertanggung Jawab

  1. Ia senantiasa mengajak isterinya untuk menjadi wanita yang selalu beriman dan bertakwa kepada ALLAH SWT.
  2. Ia senantiasa berusaha menjadikan rumah sebagai surga bagi istri dan anak-anaknya.
  3. Ia senantiasa berusaha untuk bertanggungjawab atas segala kebutuhan nafkah isteri dan anaknya dengan rezeki yang Halal.
  4. Ia senantiasa membimbing istrinya menjadi seorang istri yang selalu taat kepada suami.
  5. Ia senantiasa bersikap ramah dan penyayang kepada istri dan anak-anaknya.
  6. Ia selalu menjaga cinta dan kasih sayangnya hanya kepada istrinya. Tidak mudah baginya untuk berpaling kepada wanita lain.
  7. Ia senantiasa berusaha untuk menasehati istrinya di saat Khilaf dan berbuat kesalahan. Dan tak segan-segan ia memaafkannya
  8. Ia senantiasa berusaha bersabar dalam menyikapi (misalnya) sifat buruk isterinya. Ia akan telaten untuk mengarahkannya berubah menjadi lebih baik.
  9. Ia senantiasa berusaha untuk lebih mengingat kebaikan istrinya dibanding dengan mengungkit-ungkit keburukannya.
  10. Ia senantiasa berusaha menyelesaikan setiap permasalahan rumah tangga dengan sebaik-baiknya dan tak mudah menceritakannya kepada orang lain!
  11. Ia senantiasa berusaha menjadi pemimpin yang baik dan bijak serta menjadi contoh yang baik bagi istri dan anak-anaknya.
  12. Ia selalu punya waktu untuk berkumpul santai bersama istri dan anak-anaknya.
  13. Dan ia tidak merasa berat hati untuk memberi maaf kepada istrinya jika berbuat Khilaf, serta tidak merasa rendah diri untuk meminta maaf kepada istrinya jika ia berbuat Khilaf.

Kamis, 26 Desember 2013

✽ IMAM KU UNTUK AKHIRATKU ✽

 


Yaa ALLAH,
Pertemukanlah kami dengan jodoh yang Engkau janjikan..

Dekatkanlah kami dengan orang-orang yang mengerti,
Orang-orang yang mampu menunjukkan betapa indahnya hidup dengan Kehadiran-Mu.

Menunjukkan betapa luar biasanya memiliki pasangan hidup yang selalu mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran..


Yaa ALLAH,
Yaa Rahman,
Anugerahkan kepada kami Imam yang baik,
Yang Menjaga kami dari kemunafikan dunia.

Dan mengajak kami berjalan menuju Syurga-Mu.
Ingatkan kami selalu Yaa ALLAH, Yang Maha Penguasa Alam semesta.

Semoga Engkau selalu memberi kesabaran atas segala ujian yang ada :)
Baikkanlah kami untuk menjemput jodoh yang baik pula Untuk kami, Aamiin.



Jodoh tak kan kemana,
Mungkin dia sedang tersesat dengan orang lain, terperangkap dengan kata jenuh.
Dan tenanglah, tanpa kau harus mendo'akan dia putus hubungan
dengan sendirinya jalan terbuka lebar menuju ke dirimu.

Jodoh tak kemana,
Mungkin dia sedang terperangkap dengan sejuta hobby-nya.
Suatu saat dia akan sadar, ada kau dan dia untuk menjadi kata "kita" kelak.

Jodoh tak kemana,
Dia masih menjalani laku-liku perjalanannya untuk sampai ke kota hatimu.
Cukup tegar dan berdo'a.
Hanya saja, Perbaikilah dirimu
Dan do'akanlah kebaikan untuknya juga.

Karena jodoh tak kemana,
Sabarlah menanti bersama perbaikan diri.
Semoga kita mendapat jodoh yang terbaik, In syaa ALLAH,
Aamiin.

Ketika Cinta Tak Berjodoh

It is hurt, 
When we expect someone to accompany our lives, but Fate said another,
It just makes the pain and hurt.

But believe me, it was the best thing of ALLAH SWT.

Because obviously,
It is very clear,
All the lives, choices, essentially determined by ALLAH SWT.


Don't ever cry because people we expected can't forever with us.
But, menangislah disaat kita lupa kepada ALLAH SWT!!!


All the pain, disappointment, hurt in the hearts of all will be lost in time,
At the right time,
And surely will lead to the beauty in the future (insya'ALLAH).


Hm but yea, all of it back to ALLAH SWT,
Because the set that is in the hearts, minds, etc. is ALLAH SWT.
But it all depends on us (Human),
How we respond to it, deal with it.

Btw, lihat ya Surah Al Anfal: 63 (◦' ⌣ '◦)
Maha Benar ALLAH, Dengan Segala FirmanNYA.

Believe in the greatness that HE knows is best for His servants, which one is best for His creatures ◦^⌣^◦​ 


Never assume breakup and can't be with him/her as punishment or ALLAH is evil.


Percayalah, there is secret behind the secret :"D


Every problem/accident surely there's a silver lining.

Never blame ALLAH SWT!! 
Never blame ALLAH that ALLAH is wrong / fault.
ALLAH SWT is NEVER wrong / fault!!!!

Sabtu, 21 Desember 2013

All praises are for YOU, O ALLAH.

Yaa ALLAH!
Forgive me.
Save me from the fire of Hell
Forgive me as You did my ancestors
From Jannah though they fell

Ya ALLAH! Protect me from all evil
For my soul is frail and weak.
Let me not falter ever
For Jannah's the abode i seek.

My actions once were guided-
By my faith which once was strong.
Yaa ALLAH! Please give me guidance,
What happened? What went wrong?

Each footstep that i used to take,
I took with YOU by my side.
The Qur'an was my close companion-
My healing and my guide.

Yaa ALLAH! Please help me
For i don't understand and thus, i fear
What happened to all those days
When i never doubted YOU were near?

I sit here and i wonder O ALLAH,
Why did i fall so low?
What happened to my faith Yaa ALLAH?
Where did my Iman go?

How i yearn for those days ALLAH
For i know that the Day comes near,
When each soul receives its just rewards,
And Truth stands sparkling clear.

In this short life of ours,
So often does sin seem right,
Falsehood seems to be the truth
Like day confused with night.

Life is like a spider's web ALLAH
We get caught in its tricky snare,
So often are we disillusioned
Time for prayer we can't spare.

We are sinful creatures ALLAH,
So please forgive us when we wrong
For the road to Jannah is rocky,
And the journey seems arduously long.

Yaa ALLAH! Our Creator,
Have mercy on us on Judgement Day.
Please guide us with our steps in life,
And let us not ever lose our way.

All praises are for YOU, O ALLAH!
I know that YOU are near,
I know that YOU have read my heart,
And my words i know YOU hear.
Yaa ALLAH,
Aku, aku hamba Mu sudah lelah.. 
I hope YOU always and always protect me and guide me, so that my heart always close to YOU (:

Yaa ALLAH,
YOU know me so well, 
Terkadang aku menjadi an angel, and sometimes aku menjadi seperti devil yang tidak mentaati perintahMu dan mengikuti keinginan nafsu dunia.



Aku berada di kegelapan dunia yang nyata.
Yaa ALLAH..
Jangan biarkan aku terus berada dalam keadaan seperti ini. Bantu aku terus mengikuti keegoisan hatiku.
 
Yaa ALLAH,
Berikanlah aku petunjuk-Mu..
Don't let my tears flow just because i want to expect something that won't achieved.

Aku, hamba-Mu yang merindukan sesuatu..
Aku, hamba-Mu yang sudah menemukan that your love more than anything else.

Yaa ALLAH,
Hug me with your love and affection..
Jadikan aku perempuan yang Istiqomah dan selalu di dalam kebaikan.
Izinkan ku, hamba-Mu yang ingin  menjadi a better personal self.


Aamiin malaikat

Selasa, 05 November 2013

Jilbab Hati atau Jilbab Aurat Terlebih Dahulu?


 “Yang penting hatinya berjilbab dulu…baru memakai jilbab beneran”.

“Saya belum berani berjilbab … belum pantas”.

“Sebenarnya sudah pingin sekali berjilbab, Mbak … tapi aku masih seperti ini. Pantaskah?”


Kita mungkin pernah mendengar ungkapan–ungkapan demikian atau yang sejenis.
Pertanyaan baliknya, “Jika merasa belum pantas mengenakan jilbab, apakah tidak berjilbab akan lebih pantas?”

Merasa diri masih banyak kekurangan, sah–sah saja. Memang lebih baik demikian daripada merasa diri sudah numero uno, sudah good enough sehingga tidak perlu memperbaiki segala yang masih perlu direnovasi. Kewajiban kita adalah introspeksi diri agar kita tidak termasuk orang–orang yang merugi karena hari ini tidak lebih baik dari kemarin. Tapi untuk urusan berjilbab, ceritanya lain.

Menutup aurat adalah perintah Allah SWT terhadap kaum Hawa. Allah memerintahkan agar kaum wanita menjulurkan jilbabnya menutupi seluruh tubuh. Seperti yang termaktub dalam kedua ayat berikut ini:

“Katakanlah kepada wanita-wanita beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.’” (Qs. An-Nuur: 31)

Dan firman-Nya,
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzaab: 59)

Perintah untuk berjilbab diturunkan oleh Allah SWT untuk melindungi kaum wanita dari gangguan-gangguan yang dapat merusak kemuliaan dan kehormatannya dalam segala aspek kehidupan mengingat wanita identik dengan makhluk lemah yang berliput keindahan. Sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Abul Qasim Muhammad bin ‘Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya,

“Wanita itu adalah aurat, jika ia keluar rumah, maka syaithan akan menghiasinya.” (Hadits shahih. Riwayat Tirmidzi (no. 1173), Ibnu Khuzaimah (III/95) dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabiir (no. 10115), dari Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma)
Ketika dalam hati sudah sreg untuk memakai jilbab, alangkah baiknya segera diwujudkan. Menunggu menjilbabi hati, akan sampai kapan? Adakah standard khusus hingga seperti apa hati kita lantas kita sudah disebut layak untuk berjilbab? Sampai hati kita benar–benar seputih salju? Mungkinkah? Malaikat namanya jika tidak berbuat dosa sama sekali. Sedangkan kita, hanya manusia biasa yang melakukan amar ma’ruf, tapi juga melakukan kesalahan dan dosa.

Menjilbabi hati beranalogi dengan khusyu’ dalam shalat. Kita harus khusyu’ ketika mengerjakan shalat. Melupakan segala hal yang bersifat duniawi dan hanya mengingat Allah SWT semata. Tentu saja, sangat sulit dilakukan. Tapi apakah lantas kita berhenti shalat karena merasa belum bisa khusyu? Sebaliknya, kita terus mengerjakan shalat dan sedikit demi sedikit terus belajar agar lebih khusyu’. Jika kita berhenti mengerjakan shalat, maka kita tidak akan tahu seperti apa rasanya khusyu’. Demikian juga hati, semestinya tidak menjadi penghalang ketika kita ingin mengenakan jilbab. Alangkah baiknya jika mulai hari ini kita kenakan jilbab, lalu seterusnya sedikit demi sedikit kita belajar memperbaiki hati kita.

Menjilbabi aurat, sebenarnya adalah menjilbabi hati juga. Mempercantik aurat sama halnya dengan mempercantik hati kita. Saya katakan demikian sebab memakai jilbab adalah perintah paten dari Illahi Rabbi. Tidak bisa ditawar-tawab lagi kecuali bagi wanita–wanita yang tidak terkena kewajiban memakainya. Membayangkan gerahnya berjilbab di saat udara panas, meninggalkan baju–baju bagus yang dimiliki untuk diganti dengan busana muslimah, menutupi rambut dengan selembar jalabib padahal biasanya dipuji–puji orang karena indah berkilau, menutupi leher jenjang yang biasanya menjadi daya tarik tersendiri. Duhh…beratnya. Ketika kita bismillaah memantabkan niat untuk berjilbab, meninggalkan semua yang memperberat langkah untuk berjilbab, artinya kita menangkan satu peperangan besar melawan diri sendiri. Maka bertambah cantiklah hati kita karena sekali lagi kita kalahkan hawa nafsu dan menggantinya dengan bi tho’atillaah.

Jadi, manakah yang didahulukan? Menjilbabi hati atau menjilbabi aurat dulu? Jawabnya mari kita lakukan keduanya bersama–sama sebab ketika kita menjilbabi aurat sebenarnya kita telah satu langkah menjilbabi hati kita.

Berjilbab bukan hanya sebuah identitas fisik sebagai seorang muslimah. Menutup aurat adalah perintah wajib yang merupakan bukti ketaatan terhadap perintah Allah SWT dan Rasul-Nya sebagaimana kewajiban shalat, puasa, haji bagi yang mampu, dan ibadah-ibadah lainnya. Ketika kita ingin menjadi muslimah yang kaaffah, maka sudah seharusnya kita terketuk untuk melaksanakan perintah-Nya, bukan?

Wallahu a’lam bisshawab.
http://www.dakwatuna.com/2013/11/01/41503/jilbab-hati-atau-jilbab-aurat-dulu/#ixzz2k6TCjdm0

Jatuh Cinta vs Bangun Cinta


Cinta adalah kekuatan…
Yang mampu merubah duri menjadi mawar…
Mengubah Cuka menjadi anggur…
Mengubah malang menjadi untung…
Mengubah sedih menjadi riang…
Mengubah sakit menjadi sehat…
Mengubah bakhil menjadi dermawan…
Mengubah kandang menjadi taman…
Mengubah penjara jadi istana…
Mengubah Amarah menjadi marah…
Mengubah musibah jadi muhibbah…
Itulah makna cinta… (Ayatul Husna)


Bicara mengenai cinta ya tidak akan pernah ada habisnya. Cintalah yang membuat terciptanya alam dan semesta ini untuk dipersembahkan kepada makhlukNYA, yang dipercaya untuk mengolahnya secara adil dan bijaksana. Cinta yang membuat Rasulullah mengucapkan kata-kata terakhir “ummati…ummati…ummati”. Cinta yang membuat Bilal, tetap mempertahankan Islamnya, sebagai bukti kecintaannya pada ALLAH dan rasul-Nya.

Cinta menempati tempat tertinggi pada hati manusia. Jatuh cinta, adalah fitrah manusia yang tak akan bisa dihindari. Setiap orang pasti pernah merasakannya. Banyak hal yang ditimbulkan karena jatuh cinta. Jatuh cinta menurut Salim A Fillah, “Suatu hal yang lumrah, sesungguhnya kita sedang mengecek tanahnya layak atau tidak, untuk membangun sebuah pondasi lalu akan kita kokohkan dengan didirikannya sebuah bangunan di dalamnya (bangun cinta)”. Jika tanahnya tidak memenuhi syarat jangan dirikan sebuah pondasi apalagi bangunan di dalamnya. Bangun cinta berarti kita telah siap mengelola rasa jatuh cinta untuk dikelola dengan baik menuju ridha ALLAH SWT. Cinta yang tertinggi kepada Sang Pemberi Cinta yakni ALLAH SWT. Cinta kepada ALLAH yang membuat kita menjalankan perintahNYA dan menjauhi laranganNYA. Cinta kepada Rasulullah yang membuat kita menjalankan sunnah-sunnahnya. Dan cinta kepada keluarga yang membuat kita terus ingin membuat mereka bangga. Banyak hal yang dapat diubah oleh cinta.

Ada 4 pilar dalam membangun cinta. Agar cinta kita layak ditumbuhkan agar cinta kita tidak menuai bencana bagi kita ataupun orang lain. Agar cinta kita berbuah manis.





Visi dalam membangun cinta
  • Cinta harus memiliki visi. Cinta harus memiliki tujuan. Cinta bukanlah sebuah penderitaan yang tak pernah berakhir. Kita harus menghijrahkan cinta agar penderitaan itu berakhir. Untuk itulah visi dalam membangun cinta harus kita bangun.
  • Seperti cintanya seorang wanita yang sangat mulia, yang diuji dengan seorang suami yang sangat sewenang-wenang dan memaksa istrinya untuk keluar dari agama Islam. Dipaksa untuk menarik kembali kata-katanya ketika dia meyakini bahwasanya dia beriman kepada ALLAH SWT. Pada akhirnya wanita mulia ini digantung oleh suaminya sendiri demi mempertahankan keislamannya. Namun wanita mulia ini tersenyum .Karena pada detik-detik terakhir, malaikat Jibril memperlihatkan bayangan yang indah untuknya sebuah rumah di syurga yang terbuat dari mutiara-mutiara indah yang khusus dipersembahkan untuknya. Asiyah binti Muzahim suami Firaun adalah wanita mulia itu. Asiyah memohon pada ALLAH. “Ya ALLAH bangunkanlah sebuah rumah untukku di Syurga, karena aku tak bisa membangun cinta di dunia dikarenakan suamiku”.

Ada lagi visi seorang wanita yang dinikahi oleh sahabat Rasulullah. Wanita tersebut masih belia berumur 18 tahun. Dan dinikahkan oleh Rasulullah dengan sahabatnya sendiri yang berumur 78 tahun. Namun sahabat ini kaget ketika calon istrinya masih sangat belia dan cantik rupawan. Seketika itu sahabat ini, mengajukan pertanyaan “apakah kau mau menikah dengan laki-laki yang seharusnya kau anggap sebagai kakekmu, lihat rambut ku sudah dipenuhi uban? Pertanda aku sudah tua. Wanita ini menjawab “Biarlah masa mudamu kau habiskan untuk berjuang bersama dengan Rasulullah, namun izinkan aku untuk mendapatkan sisanya di masa tuamu. Hasil pernikahan ini menghasilkan 3 orang anak dan akhirnya sahabat ini meninggal di usia 83 tahun. Sahabat ini bernama Utsman Bin Affan dan istrinya bernama Nayla. “Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Utsman di hatiku, meskipun ia telah tiada”.

Buatlah visi mu dalam membangun cinta “Aku mencintaimu karena ALLAH, dengan cara yang diridhai ALLAH, dalam rangka menuju ridha ALLAH”

Emosi dalam membangun cinta
Setelah membangun visi dalam cinta. Yang harus dilakukan berikutnya adalah bagaimana mengelola emosi dalam cinta. Emosi adalah hal yang sulit dipisahkan dari cinta. Banyak yang bilang bahwasanya cemburu adalah tanda cinta. Bahkan perasaan benci pun menjadi pertanda cinta kepada seseorang.

“Jika kamu mencintai sesuatu, cintailah ia seperlunya saja, jika kamu membenci sesuatu bencilah seperlunya saja. Bisa jadi hal yang kamu benci akan kamu cintai suatu hari ataupun sebaliknya. Seorang mukmin yang sedang jatuh cinta akan menghasilkan 2 macam energi yakni energi positif dan energi negatif. Semuanya tergantung kita mau mengelola energi itu ke arah yang baik atau buruk. Jangan terjebak cinta lokasi, dunia ini begitu luas, yang terpenting tingkatkan kualitas diri untuk mendapat yang sesuai dengan kita. Seperti kisah ALI bin Abi Thalib yang mencintai Fatimah dalam diam. Cinta yang tersembunyi di dalam hati. Cinta yang menurutnya tak mungkin untuk terwujud mengingat Ali adalah sahabat yang paling kurang dari finansial dibanding sahabat yang lain. Namun Fatimah ternyata memilih Ali dibanding sahabat rasul yang lain.

Spiritual /nurani dalam membangun cinta
Cinta tidak harus memiliki. Jika kita saat ini berada di sekitar orang-orang yang kita cintai sesungguhnya itu bukanlah kepemilikan kita, itu semua hanya amanah yang datangnya dari ALLAH SWT. Kita hanya diuji untuk memberikan cinta yang tulus dan terbaik untuk orang di sekitar kita. Seperti kisah seorang Salman Al-Farisi yang minta tolong pada Abu Darda untuk mengkhitbah wanita madinah. Namun wanita tersebut menyukai Abu Darda dibanding dengan Salman itu sendiri. Namun, Salman tidak pernah kecewa, Salman malah mendukung Abu Darda dengan memberikannya mahar yang telah disiapkannya untuk pernikahannya dengan wanita tersebut.

Itulah Nurani, yang melihat segala macam keadaan dengan tenang dan tidak mengedepankan nafsu bahkan emosi.

Disiplin dalam membangun cinta

“Disiplin dalam cinta adalah ketaatan yang terjaga. Menyingkirkan semua ego ketika ALLAH dan Rasul-Nya menurunkan titahnya. Seperti luluhnya sifat keras Umar tatkala perjanjian hudiabiyah,patuhnya Hudzaifah menyelusup ke kawanan Quraisy di tengah malam yang dingin.” (Jalan Cinta Para Pejuang, Salim)

Itulah disiplin dalam cinta, mampu menahannya sampai akan tiba saatnya. Karena semuanya akan indah pada waktunya.

http://www.dakwatuna.com/2012/02/01/18340/jatuh-cinta-vs-bangun-cinta/#ixzz2k6PkxoQh
Cinta. Adakah dari kalian yang dapat mendefinisikan cinta secara pasti? Kurasa semakin keras kita mendefinisikannya, semakin terbatas ruang lingkup cinta yang kita rasakan. Cinta adalah sebentuk emosi manusiawi yang merupakan anugerah dari Sang Maha Pencinta. Banyak para tokoh mencoba mendefinisikan cinta dengan beragam kalimat mereka sendiri. Dari sekian banyak definisi cinta yang bermunculan itu, ada sebuah kesamaan yang patut kita garis bawahi, cinta yang sesungguhnya membawa kita kepada hal-hal yang baik, yang mendekatkan kita dengan Sang Pemilik Cinta.

Cinta adalah bagian dalam kehidupan yang akan senantiasa hadir. Pernahkah kau dengar bahwa hujan adalah bukti cinta Allah kepada manusia? Saat hujan, Allah turunkan rahmatNya kepada kita. Hujan adalah salah satu bukti cinta. Apakah Allah biarkan bumi ini tandus dan gersang? Jawabannya tentu tidak. Allah turunkan hujan sebagai bukti cintaNya pada kita agar bumi ini sejuk dan pepohonan tumbuh subur. Tentu saja, itu karena cinta.

Cinta itu bermacam-macam, ada cinta kepada Allah, cinta pada manusia, cinta pada agama, cinta pada tanah air, cinta pada sebuah pekerjaan, dan masih banyak lagi. Ya, sangat banyak dan entah disadari atau tidak kita telah memutuskan menjadi seorang pecinta dalam kehidupan ini. Karena mencintai setiap hal adalah keputusan yang kita buat. Mencintai berarti siap memberikan cinta sepenuh hati, bukan sekadar mengharapkan cinta dari sesuatu yang kita cintai. Pertanyaannya, sudahkah kita benar-benar mencintai? Atau hanya baru mengucapkannya saja? Jika kau katakan kau mencintai Allah, sudahkah kau cintai segala hal yang Dia cintai? Sudahkah kau melakukan segala sesuatunya hanya karena Allah? Jika kau cinta pada orang tuamu, sudahkah kau taat kepada mereka? Atau masih juga membangkang dan membuat mereka menangis? Jika kau mencintai pekerjaanmu, sudahkah kau melakukan pekerjaan itu dengan penuh cinta? Atau kau hanya mengejar tahta dan harta semata?

Saat kita mencintai sesuatu, ada satu hal yang akan terasa dalam diri kita. Kebahagiaan. Cinta adalah sesuatu yang dapat membawa manusia menuju kebahagiaan. Sebagai contoh, jika seorang guru mencintai pekerjaannya demi memajukan anak bangsa, tentu ia akan bahagia dan sepenuh hati menyampaikan pelajaran kepada murid-muridnya. Dan tentunya murid-muridnya pun akan merasakan betapa guru itu mencintainya dengan ilmu yang diberikan kepada mereka. Tidak hanya sekadar mengejar materi ataupun jabatan.

Menumbuhkan cinta adalah perkara yang lebih mudah, dibandingkan pekerjaan cinta selanjutnya yaitu merawat dan mempertahankannya. Perjalanan bersama cinta akan beriringan dengan berbagai duri di dalamnya, yang terkadang membuat kita lupa akan cinta yang awal kita bangun, bahkan terkadang membuat terkikisnya cinta itu. Maka ternyata mencintai pun adalah sebuah tantangan dan tanggung jawab. Mencintai adalah tantangan untuk kita berkorban demi sesuatu yang kita cintai. Mencintai adalah tanggung jawab untuk mempertahankan kebahagiaan dalam cinta itu sendiri.

Lalu, bagaimana dengan cinta sejati? Cinta sejati bagi orang yang beriman adalah cinta kepada Rabb-nya. Cinta terbesar dan cinta yang paling hakiki. Sementara cinta yang lain, adalah dalam rangka mencintai karena Allah. Cinta sejati hanya pantas kita tujukan pada Allah, Sang Pemilik Cinta. Tak ada satu pun alasan, yang dapat menggantikan posisi Allah dalam cinta sejati yang kita punya.

Sebagai seorang pecinta, tentu kita menginginkan cinta yang sama dari orang yang kita cintai. Kini pertanyaannya, layakkah kita dicintai? Jika cinta yang kita berikan bukan cinta yang tulus, maka pantaskah kita mendapatkan cinta yang lebih baik dari cinta yang kita berikan? Sebarkanlah cinta kepada semua orang dengan sepenuh hatimu, karena saat kita menebarkan cinta ke semua orang itulah, kita tengah mengundang cinta untuk datang.

Meskipun panjang lebar aku jelaskan, masing-masing dari kita tentu memiliki makna tersendiri atas cinta. Tidak selalu sama, tapi kadang juga tidak berbeda. Walau begitu, ternyata obrolan tentang cinta belum dan tak akan pernah selesai. Aku merasa cinta ternyata memang harus kuukir dalam kata, bukan untuk kuuraikan, tapi untuk kubuat cinta sebegitu meyakinkannya. Dengan rasa yang kuendapkan dalam bait-bait kata. Meski aku tau cinta yang nyata senyata-nyatanya hanya bisa kurasakan, bukan kuungkapkan. Cinta memang tak terlihat dan tak terdefinisikan, tetapi tak ada yang membuatku ragu akan keberadaan cinta. Karena cinta yang kumiliki, kusandarkan hanya kepadaNya.

http://www.dakwatuna.com/2012/07/15/21628/aku-tak-ragu-soal-cinta/#ixzz2k6NV16Qb

Lagi-Lagi Cinta

Berbicara mengenai cinta dan hati adalah dua hal yang saling bertautan. Tidak bisa dipisah. Karena jika bermain dengan hati, maka akan timbul sebuah efek yaitu cinta. Terlepas dari jenis cinta yang baik atau tidak. Maka hati memang harus selalu dijaga.

Jika tubuh memerlukan berbagai jenis asupan gizi guna mempertahankan kestabilan pencernaan, maka hati pun memerlukan asupan untuk menghindarkannya dari sesuatu yang kurang baik. Asupannya adalah dzikrullah.

Hati memang sangat rentan bila tidak dijaga. Bahkan meskipun sudah telaten menjaganya, kadang masih suka tergelincir. Tapi bedanya, tergelincirnya hati yang sudah ternutrisi tidak akan tergelincir sangat jauh. Pemiliknya akan menyadari kekeliruannya dan merasakan ketidaknyamanan.

Berbicara mengenai cinta, pasti juga berbicara mengenai hubungan lawan jenis. Tidak bisa di tampik, jika seseorang menyukai lawan jenis. Entah dari segi fisik, inner beauty atau dari hati. Seberapa pun ia tergolong seseorang yang shalih. Kecenderungan terhadap lawan jenis adalah hal yang normal.

Kadangkala hati bisa melesat menjauh tanpa bisa dikendalikan oleh pemiliknya. Ia bisa menyukai lawan jenisnya, meskipun kadang ia tidak ingin menyukainya. Padahal sebenarnya, bukan hati yang benar-benar melesat. Tapi ada sesuatu yang menyebabkan hati itu melesat seolah tidak mampu tergenggam.

Contohnya, jika perempuan dan laki-laki memiliki intensitas pertemuan yang tinggi. Entah karena masalah pekerjaan, organisasi, pertemanan atau lainnya. Bisa dipastikan sedikit banyak akan menimbulkan suatu perasaan khusus. Jika bukan dari pihak perempuan, maka bisa jadi dari pihak laki-laki. Seperti pepatah Jawa, witing tresno jalaran soko kulino. Cinta datang karena seringnya bertemu.

Kita tidak bisa menyalahkan keadaan, kita juga tidak bisa menyalahkan hati jika tiba-tiba tertambat pada seseorang. Karena itu adalah fitrah. Karena kita adalah manusia biasa yang memang dilahirkan cenderung untuk mencintai dan dicintai.

Jika suatu keadaan bisa sangat diminimalisasi, misalnya jika kita bisa berusaha untuk mengurangi intensitas dengan lawan jenis, itu bisa menjadi salah satu solusi. Minimal menghindari adanya persentuhan hati.

Persentuhan hati yang telah terlanjur melekat akan sangat sulit untuk terlepas. Jika pun terlepas, seperti sebuah keramik yang retak dan berusaha untuk disatukan kembali, maka tetap akan tampak bekas retakannya.

Tapi jika terlibat pada situasi yang mengharuskan kita rutin bertemu dengan lawan jenis dan kemudian muncul benih-benih cinta yang sebenarnya kita sendiri tidak menginginkan hal tersebut hadir. Jangan panik, itu lumrah. Jangan berusaha menghilangkan, kata kawan saya. Semakin kita berusaha menghilangkan maka akan semakin sulit. Cinta itu berasal dari Allah, cinta itu karunia dari Allah. Maka kembalikan saja cinta itu kepada Allah, jika kita merasa kita tidak pantas memiliki rasa cinta itu (baca: bukan pada pasangan). Bukan suatu hal yang mudah, tapi kawan saja mengajarkan untuk menikmati saja rasa itu. Biarkan waktu yang akan menghapusnya. Dan selalu berpegang kepada Allah mengenai segala rasa cinta. Agar cinta kita tidak tergelincir.

Berusaha menghindari memanjakan rasa cinta yang tiba-tiba hadir kecuali kepada yang berhak. Bagaimana pun manajemen cinta bergantung kepada masing-masing orang. Tapi tingginya ilmu tidak menjamin cinta itu tidak bisa hadir dalam hatinya, karena cinta itu fitrah.

Insya Allah, hanya dengan berpegang teguh kepada Allah, sabar atas segala kehendakNya dan mencoba memikirkan baik buruknya cinta “terlarang”, Allah akan selalu menjaga kita. Menjaga cinta kita untuk yang berhak. Hanya Allah, sutradara terbaik di muka bumi. Segala skenarionya adalah yang terindah meskipun harus mengais makna dalam kesedihan. Setiap manusia ditakdirkan memiliki cinta. Hanya Allah sebaik-baik pemberi cinta. Hanya Allah sebaik-baik landasan untuk mencintai.

http://www.dakwatuna.com/2012/04/29/19759/lagi-lagi-cinta/#ixzz2k6J6JTTP

Cinta yang Terlupakan

Jika kita berbicara cinta, maka yang terlintas adalah sesuatu yang menyejukkan, menyenangkan, menentramkan dan membuat damai. Bagi kebanyakan orang, mereka yang masih berpacaran dan memadu kasih dengan lawan jenis, akan merasakan indahnya cinta ketika bersama pasangannya. Tenteram rasanya jika ada yang selalu menemani seraya menikmati keindahan dunia berdua. Indah rasanya meski sebenarnya hubungan ini belumlah halal. Tapi seperti itulah cinta yang dirasakan para muda-mudi saat ini.

Bagi sebagian orang lainnya, yang lebih tepat disebut sebagai aktivis Islam sangatlah tidak mengenal yang namanya pacaran. Mereka cenderung menikmati masa lajangnya dengan amal dakwah. Menantikan masa indah merajut cinta ialah dengan menanti masa-masa indah pernikahan. Terkadang, membaca berbagai buku dan literatur tentang pernikahan seraya mempersiapkan diri ke sana. Menuju sebuah tempat di mana keindahan merajut cinta dan menjalin kasih dengan lawan jenis dapat terwujud dalam nuansa halal atas ridha-Nya.

Cinta memang menjanjikan suatu keindahan, baik bagi yang sedang menanti pernikahan atau bagi yang sudah merasakan manisnya berumah tangga semua terasa indah. Ketika menghadapi masalah yang pelik, dihadapi bersama-sama. Ketika menanggung sebuah beban yang berat, ditanggung bersama. Saling menyemangati di saat susah, saling berbagi di saat senang. Bagi sepasang suami-istri, mendidik anak bersama, membangun kehidupan harmonis di bawah ridha-Nya, sang suami yang begitu pulang merasakan kehangatan sambutan istri dan senyum anak-anaknya, istri yang dengan hangatnya menyambut sang suami serta membimbing anak-anaknya, tentu hal yang sangat menyenangkan. Indah cinta benar-benar terasa di sini, cinta yang berlandaskan karena Allah SWT. Namun, mesti ada sebuah perenungan di sini, mari kita sama-sama simak firman Allah SWT berikut ini:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali-imron: 14)

Ada satu hal yang perlu kita renungi dari ayat ini. Apakah kita benar-benar mencintai sesuatu itu karena Allah? Apakah semua keindahan yang kita rasakan itu benar-benar nyata atau bersifat sementara? Pernahkah terbayang di pikiran kita ketika semua keindahan dan kesenangan yang kita rasakan itu hilang dalam seketika?

Coba kita renungkan dan tanya ke dalam hati ini. Jika semua yang membuat kita bahagia saat ini, teman, keluarga, ayah, ibu, istri dan semuanya itu tiba-tiba dipanggil oleh Allah SWT. Akankah kita menangis histeris, merasa kehilangan segalanya, merasa dunia tidak bersahabat atau bahkan merasa bahwa Allah tidak adil? Jika ini yang akan kita rasakan maka sekaranglah saatnya kita merekonstruksi niat kita ini.

Ketika kita bersama sebuah kebahagiaan, merasakan indahnya cinta, terkadang ada sebuah hal yang sering terlupakan. Terkadang sering kita menantikan seseorang yang akan mendampingi kita dengan sebuah kebahagiaan dan harapan akan bisa merasakan indahnya cinta, namun lagi-lagi ada sebuah hal yang terlupakan. Jika kita akan merasa begitu sangat sedih dan sangat kehilangan saat orang tersayang kita harus menghadap-Nya, bahkan kita merasa tidak dapat menemukan kebahagiaan lagi karena hal itu maka di sinilah kita telah melupakan suatu hal yang sangat berharga yang menyebabkan segala keindahan dan kesenangan itu hadir.

Cinta kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya cinta. Di kala senang, kita sering melupakan hal ini padahal Allah-lah yang membuat kita merasakan kesenangan itu. Kebahagiaan yang tadi kita sebutkan itu hanya sementara, terbukti ketika kita kehilangan, kita tidak lagi merasakan kebahagiaan itu. Tapi, berbeda kondisinya dengan cinta kepada Allah SWT karena Allah itu kekal sehingga kita tidak akan pernah kehilangan. Cinta yang dapat membuat sebuah tangisan terasa begitu indah.

Di sinilah sumber kebahagiaan yang sesungguhnya. Ketika kita merajut indahnya jalinan kasih rumahtangga, cinta kepada Allah-lah yang sebenarnya membuat kita merasakan kebahagiaan itu. Kesenangan bersama lawan jenis yang belum halal hanyalah kesenangan semu semata. Kebahagiaan bersama dalam rumah tangga juga tidak boleh melebihi besarnya cinta kepada Sang Pemberi Cinta. Sehingga, ketika sekarang kita sedang mengagumi seseorang, mendambakan seseorang untuk menjadi pendamping hidup kelak, merasakan getar-getir dengan lawan jenis sehingga timbul keinginan memilikinya, dan lainnya. Itu bukanlah hal yang tidak wajar, namun bukankah akan lebih baik jika kita fokuskan hal itu kepada sumber kita meraih cinta itu, yaitu Allah SWT. Rasa kagum terkadang timbul, rasa cinta yang terkadang sulit dihindari, rasa tenteram yang terkadang terasa di hati cobalah untuk menepisnya dengan memfokuskannya kepada Allah SWT karena dengan merasakan indah cinta kepada Allah SWT itu kita bisa merasakan semua kebahagiaan dan ketenteraman itu.

Jadi, ketika kita ingin mendapatkan cinta lawan jenis, alihkanlah dengan keinginan untuk mendapatkan cinta Allah SWT karena itu adalah syarat mutlak bagi kita untuk bisa merasakan keindahan cinta.

Aku ingin mencintaimu
setulusnya, sebenar-benar aku cinta
dalam doa dalam ucapan dalam setiap langkahku
aku ingin mendekatimu selamanya
sehina apapun diriku
kuberharap untuk bertemu denganmu ya Rabbi


http://www.dakwatuna.com/2012/09/30/23237/cinta-yang-terlupakan/#ixzz2k6GxNSqd

Belajar dari Hijrah yang Gagal

Sebelumnya telah ada beberapa orang mukmin yang di perintahkan untuk hijrah dan menjadi hijrah yang pertama bagi kaum muslim yaitu hijrah ke Habasyah yang di pimpin oleh Ja’far bin abu Thalib dan hijrah ini tidak di bersamai oleh Rasulullah SAW. Namun yang akan di paparkan berikut ini adalah hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ke kota Thaif. Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Albuthy bercerita kepada kita tentang hijrah Nabi Muhammad ke kota Thaif.

“Setelah merasakan berbagai siksaan dan penderitaan yang di lancarkan kaum Quraisy. Rasulullah SAW berangkat ke Thaif mencari perlindungan dan dukungan dari Bani Tsaqif serta mengharap agar mereka dapat menerima ajaran yang dibawanya dari Allah. Setibanya di Tha’if, beliau menuju tempat para pemuka bani Tsaqif sebagai orang-orang yang berkuasa di daerah itu. Beliau berbicara tentang Islam dan mengajak mereka supaya beriman kepada Allah. Akan tetapi, ajakan beliau itu di tolak mentah-mentah dan di jawab secara kasar. Rasulullah SAW kemudian bangkit dan meninggalkan mereka seraya berharap supaya mereka menyembunyikan berita kedatangan ini dari kaum Quraisy, tetapi mereka pun menolaknya. Mereka lalu mengerahkan kaum penjahat dan para budak untuk mencerca dan melempari dengan batu sehingga mengakibatkan cedera pada kedua kaki Rasulullah SAW. Zaid Bin Haritsah berusaha keras melindungi beliau, tetapi kewalahan sehingga ia sendiri terluka pada kepalanya.”

Jika kita merenungi dan mencermati ini merupakan salah satu kegagalan yang di alami oleh Rasulullah SAW dalam berusaha menyebarkan ajaran Islam. Ketika kita berhenti membaca kisah ini sampai di sini saja maka tentu kita tidak akan mengetahui bahwa kegagalan ini merupakan salah satu dari kegagalan yang mempesona. Kenapa saya katakan ini merupakan kegagalan yang mempesona? tak lain adalah karena menurut saya ini adalah hanya episode awal sebagaimana yang kita ketahui bahwa pada akhirnya Rasulullah SAW berhasil melakukan hijrah berikutnya yaitu hijrah ke  Madinah dan kemudian beliau berhasil membentuk tatanan masyarakat dan mendirikan negara sekaligus mendirikan peradaban dan jika kita hari ini kita mengenal istilah “madani” sesungguhnya itu di ambil dari kata yang berasal dari nama kota madinah hal ini di jadikan rujukan bahwa madinah pada saat itu menjadi cikal bakal peradaban masyarakat terbaik sepanjang massa.

Tujuan awal saya menuliskan goresan kata ini adalah agar kita bersama-sama mengambil hikmah dari suatu kegagalan, mempelajarinya bahkan mensyukuri makna lain dari kegagalan. Marilah kita cermati apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dari kisah gagalnya beliau hijrah ke kota Tha’if dan bahkan menjadikannya salah satu bagian dari suksesnya beliau membangun peradaban di kota madinah.

Yang dilakukan oleh Rasulullah SAW setelah ia mendapati kesakitan dan kegagalan adalah berdoa.

Setelah berlari dari kejaran orang-orang yang menganiayanya. Rasulullah akhirnya tiba di kebun milik uqbah bin Rabi’ah dan kaum yang penjahat dan budak yang mengejarnya berhenti dan kembali. Setelah merasa tenang di bawah rindang pohon anggur. Beliau SAW mengangkat kepalanya seraya berdoa

“Ya Allah, kepadaMu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku dan ketidakberdayaan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai zat yang maha pengasih lagi maha penyayang, Engkaulah pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku. Kepada siapakah diriku hendak Engkau serahkan? Jika Engkau tidak murka kepadaku, semua itu tak kuhiraukan karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajahMu yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akhirat, dari murkaMu yang hendak Engkau turunkan kepadaku. Hanya Engkaulah yang berhak menegur dan mempersalahkan diriku hingga Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenanMu”

Luar biasa sikap bijak yang beliau SAW lakukan. DOA sesungguhnya akan meneguhkan keyakinan. Doa yang beliau panjatkan syarat makna akan sikap kesyukuran walau beliau baru saja mendapati kegagalan. Mungkin jika kita yang mendapati kegagalan barang kali kita akan lupa bersyukur bahkan banyak di antara kita yang menggerutu dan menjadikan kegagalan itu sesuatu yang negative sekaligus melahirkan sikap-sikap negative yang lainnya. Di dalam doanya pula begitu syarat makna pengakuan atas kekuatan Tuhan dan rasa kebergantungan kepada Allah Tuhan semesta yang merajai seluruh alam.

Beliau SAW memunculkan sikap luar biasa yang lahir dari keimanan kepada Tuhannya. Sikap itu adalah sikap sabar sebagaimana yang telah diperintahkan kepada dalam Al Qur’an :

“Hai orang-orang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap siaga dan bertawakallah kepada Allah, supaya kamu beruntung” (Ali Imran: 200)

Yang dilakukan oleh Rasulullah saw dalam menghadapi penderitaan dan penganiayaan tersebut, beliau begitu ikhlas, ridha dan sabar. Seandainya Beliau tidak bersabar akan perlakuan itu tentunya beliau akan membalas apa yang telah dilakukan oleh orang-orang jahat dan tokoh Bani Tsaqif. Namun beliau tidak melakukannya dan itu sebagai bukti sikap positif yang beliau lakukan. Hal ini di ceritakan dalam sebuah hadits yang di riwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Dari Aisyah RA ia berkata:
“Wahai Rasulullah SAW, pernahkah engkau mengalami peristiwa yang lebih berat dari peristiwa Uhud?” jawab Nabi SAW, “aku telah mengalami berbagai penganiayaan dari kaummu. Akan tetapi, penganiayaan terberat yang pernah aku rasakan ialah pada hari Aqabah saat aku datang dan berdakwah kepada Ibnul Abdi Yalil bin Abdi Kilal, tetapi dia menolak tawaran dakwahku. Aku kemudian kembali dengan perasaan tidak menentu sehingga aku baru tersentak dan tersadar ketika di Qarnuts Tsa’alib. Aku angkat kepalaku dan tiba-tiba muncul Jibril memanggilku seraya berkata, “sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu dan Allah telah mengutus Malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan sesukamu”. Nabi SAW melanjutkan “kemudian malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucap salam kepadaku lalu berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah malaikat penjaga gunung dan Rabbmu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu. Jika engkau suka, aku bisa membalikkan gunung Akhsyabin ini ke atas mereka. Aku berkata, “Aku bahkan menginginkan semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak MenyekutukanNya dengan sesuatu apapun”.
Dan apakah kau tahu ternyata kelapangan beliau terjawab dengan kemenangan dakwah beliau ketika beberapa waktu setelah kisah itu akhirnya orang-orang datang berbondong-bondong untuk menjadi muslim bahkan berangsur-angsur penduduk jazirah Arab menjadi beriman di bawah bendera Islam yang beliau rintis dari dakwahnya di Mekah dan membangun tatanan peradaban di Madinah. Begitulah jika kegagalan disikapi dengan sikap yang mempesona maka kegagalan itu adalah hanya sebatas episode awal sebelum datangnya episode kemenangan dan kesuksesan yang memukau semesta raya.

Seorang penyair, Musthafa Shadiq Ar Rafi’ terkait kegagalan hijrah nabi yang mempesona ini melukiskan dengan syairnya:

“Betapa ajaib symbol-simbol takdir yang terdapat di dalam peristiwa ini!

 Kebaikan, kedermawanan dan kemuliaan datang begitu cepat memintakan maaf atas kejahatan, kebodohan dan kezhaliman yang baru saja dialaminya. Kecupan mesra itu datang setelah umpatan-umpatan permusuhan”

http://www.dakwatuna.com/2013/03/19/29531/belajar-dari-hijrah-yang-gagal/#ixzz2k6DYp4dv

Kesederhanaan ala Rasulullah SAW

Kesederhanaan akhir-akhir ini menjadi makhluk langka, apalagi di tengah-tengah perkotaan yang megah. Kesederhanaan identik dengan kebodohan dan kemiskinan. Mereka beranggapan bahwa kesederhanaan adalah hidup yang susah dan identik dengan kehidupan yang menderita, padahal anggapan seperti ini adalah anggapan yang keliru dan jauh dari apa yang telah di ajarkan oleh Rasulullah SAW.  Sudah seharusnya dalam kehidupan kita sehari hari untuk selalu meneladani gaya hidup ala Rasulullah tercinta. Karena hidup sederhana bukanlah berarti hidup susah dan menderita karena semua keinginannya tidak terpenuhi, bukan berarti juga meninggalkan kesenangan dunia tapi, kita harus sadar bahwa di setiap kesenangan pasti akan dimintai pertanggungjawabannya, sementara kita sering lupa bahwa kita akan mempertanggungjawabkan nikmat yang kita terima. Seperti:

“Kemudian sungguh, pada hari itu kamu akan ditanya tentang kenikmatan yang kamu peroleh hari ini (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. Al-Takatsur [102]: 8)

Kisah kesederhanaan Rasulullah SAW terekam dalam sebuah hadits yang menceritakan betapa beliau tidak mempunyai keinginan menumpuk harta, walaupun jikalau mau sangatlah mudah baginya. Ketika Islam telah berkembang luas dan kaum muslimin telah memperoleh kemakmuran, Sahabat Umar bin Khattab RA berkunjung ke rumah Rasulullah SAW ketika dia telah masuk ke dalamnya, dia tertegun melihat isi rumah beliau, yang ada hanyalah sebuah meja dan alasnya hanya sebuah jalinan daun kurma yang kasar, sementara yang tergantung di dinding hanyalah sebuah geriba (tempat air) yang biasa beliau gunakan untuk berwudhu. Keharuan muncul dalam hati Umar Ra. Tanpa disadari air matanya berlinang, maka kemudian Rasulullah saw menegurnya. “Gerangan apakah yang membuatmu menangis?” Umar pun menjawabnya, “bagaimana aku tidak menangis Ya Rasulullah? Hanya seperti ini keadaan yang kudapati di rumah Tuan. Tidak ada perkakas dan tidak ada kekayaan kecuali sebuah meja dan sebuah geriba, padahal di tangan Tuan telah tergenggam kunci dunia Timur dan dunia Barat, dan kemakmuran telah melimpah.” Lalu beliau menjawab “Wahai Umar aku ini adalah Rasul Allah, Aku bukan seorang Kaisar dari Romawi dan bukan pula seorang Kisra dari Persia. Mereka hanya mengejar duniawi, sedangkan aku mengutamakan ukhrawi.

Kata-kata Aku bukan Kaisar Romawi, Aku bukan Kisra Persia, tidak berarti Rasulullah tidak memiliki kesempatan, mengingat keterangan Umar bahwa di tangan Rasulullah-lah tergenggam kunci dunia Timur dan dunia Barat. Namun niat Rasulullah saw dalam kalimat terakhir itu merupakan kata paling berharga “Mereka hanya mengejar duniawi, sedangkan aku mengutamakan ukhrawi.” Apa yang diisyaratkan Rasulullah saw sangatlah jelas, bahwa tidak selamanya hidup dengan kemewahan dan gelimang harta adalah berkualitas, justru sebaliknya. Seringkali kehidupan semacam itu menjadikan hidup terasa kering dan sunyi, sombong dan akan lebih menjauhkan diri kita dari cinta dan kasih Allah. Kondisi seperti ini adalah seburuk buruk hati, bukankah Allah sangat membenci sesuatu yang serba berlebih lebihan? Ingatlah kesederhanaan adalah kemuliaan, kesederhanaan baru bisa terwujud kala kita menyadari bahwa hidup di dunia hanyalah persinggahan dari perjalanan panjang manusia menuju Tuhan.


http://www.dakwatuna.com/2012/02/19/18772/kesederhanaan-ala-rasulullah-saw/#ixzz2k6Ccv6M2

Fitnah, Oh, Fitnah


“Jika kamu bersabar dan bertaqwa ketika mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda” (Q.S. Al-Imran: 125)

Mengawali tulisan ini, penulis teringat dengan salah satu perang yang membawa kemenangan bagi pasukan Rasulullah Saw, perang Badr. Perang yang membakar semangat umat Islam, perang yang membuat penulis merinding tatkala membaca kisah-kisah keajaiban yang muncul karena bantuan yang dikirimkan oleh Allah. Seperti kata Allah pada kutipan ayat di atas. Dia datang menolong dien-Nya dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda dan entah dengan jalan apa lagi DIA akan menolong hamba-Nya yang selalu bersabar.

Dalam keadaan bagaimana pun, seruan Allah akan kesabaran ini amat banyak dalam kitab suci Al-Quran, hingga pantaslah jika ‘bersabar’ adalah pekerjaan berat yang akan diujikan kepada tiap hamba yang senantiasa berpegang teguh pada tali agama-Nya. Dan wajarlah bila balasan yang dijanjikan bagi orang yang bersabar adalah surga, sebab ia teramat berat untuk dijalani.

Ketika diri dilanda fitnah, maka di situlah awal sabar hendak ditanam. Tak usah khawatir akan fitnah. Sejak zaman Rasulullah, toh, perbuatan keji itu sudah ada. Masih jelas, amat kental dalam ingatan penulis, ketika orang paling munafik di kalangan Quraisy memfitnah Aisyah RA bahwa beliau sengaja berkhalwat (berduaan) dengan salah seorang sahabat. Padahal, berdasarkan kisah, sungguh hal itu tidaklah seperti yang dituduhkan. Begitu berbahayanya fitnah hingga berita tersebut menyebar di seluruh kalangan dengan begitu cepatnya. Bahkan, salah seorang sahabat, Abu Bakar Assiddiq RA yang dikenal dengan kelembutan hatinya sedemikian marahnya mendengar putrinya, Aisyah, berbuat demikian. Apatah lagi sang suami, lelaki paling mulia, Rasulullah SAW ketika mendengar kabar tersebut kemudian terbesit rasa percaya akan kabar tersebut, sungguh penyiksaan besar yang dirasakan oleh Aisyah RA semalam suntuk beliau menangis pedih. Tiga bulan lamanya ia dijauhi oleh Rasulullah, Saw. Bahkan sempat terdengar kabar, Abu Bakar RA rela putrinya diceraikan sekiranya kabar tersebut benar adanya. Itulah fitnah, punya kekuatan menumbangkan lawan atau musuh dari segi mental. Na’udzu billah tsumma na’udzu billah. Namun, perlu kita ketahui bersama bahwa kebenaran akan terkuak dengan sendirinya. Kesabaran akan membuka tabir fitnah yang tak jelas itu. Jikalau Rasulullah memperoleh kebenaran dari adanya wahyu, tentulah manusia biasa pun akan diberikan jalan oleh-Nya.

Tak perlu risau dengan fitnah. Bukankah memang demikian adanya! Kebenaran akan diiringi oleh kebatilan. Bukankah sangat jelas pula bahwa kemudahan menyertai kesulitan. “Inna ma’al ‘usrii yusroo” (sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan), (QS. Al-Insyirah: 5). Usah resah akan fitnah yang bertandang jika diri sudah berjalan pada koridor yang tepat. Tak mestilah takut menggelayuti. Amat wajar kejujuran mendapat cobaan. Sudah lumrah kebenaran berteman dengan ujian. Semua sudah sunnatullah. Yang terpenting diri tahu bahwa pelaku fitnah alias ‘munafik’ tempatnya adalah Hawiah, lapisan terbawah dari tujuh neraka. Yang jelas diri paham akan firman-Nya dalam Al-Quran surah Al- Baqarah: 217 “Walfitnatu akbaru minal qotli” (Sedangkan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan)

Sekali lagi, tak perlu galau bila diri dilanda fitnah. Janji Allah itu pasti, bahwa “Innalloha ma’a sshoobiriin” (Sesungguhnya Allah bersama dengan orang yang sabar). Surah Al-Imran pada pembukaan tulisan di atas pun amat jelas menerangkan kepada kita bahwa kesabaran adalah kunci kemenangan. Tak perlu memikirkan dengan cara apa Dia akan menolong. Dia jauh lebih punya kuasa dibanding dengan penyebar fitnah. Dia amat tahu melalui cara apa hamba itu dimudahkan-Nya.

Jaga Allah, maka Allah akan menjagamu. Itulah janji-Nya. Betapa indah ia memberikan janji kepada hamba-Nya. Tentulah, Dia akan dating dengan cara yang lebih indah. Penulis teringat dengan sebuah hadits hasan lagi shahih, yang diriwayatkan oleh Tirmidzi: Dari Abul Abbas Abdullah bin Abbas RA berkata, “Suatu hari aku berada di belakang Nabi SAW lalu beliau bersabda, “Nak, akan aku ajarkan kepadamu beberapa patah kata, jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu, jagalah Allah, niscaya dia akan senantiasa bersamamu, dan bila engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah. Ketahuilah, jika semua umat manusia bersatu padu untuk memberikan suatu kebaikan padamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya, kecuali  yang telah ditulis oleh Allah bagimu,  dan jika semua umat manusia bersatu padu mencelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang ditulis oleh Allah bagimu. Pena telah diangkat dan catatan-catatan itu telah mengering.

Sungguh dahsyat susunan hadits yang disabdakan oleh Rasulullah. Mudah-mudahan terpetik banyak hikmah. Satu hal yang mesti ditekankan dalam diri bila fitnah benar-benar bertandang adalah bahwa kemenangan akan selalu mengiringi kesabaran. Bersabar terhadap fitnah yang menghampiri insya Allah jalan keluar akan tampak jelas. Wallohu’alam bissawwab.

http://www.dakwatuna.com/2013/02/01/27484/fitnah-oh-fitnah/#axzz2k4Valce5