conti Ordinary Girl: Pengetahuan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Desember 2013

Rahasia EQ Untuk Menjadi Leadership Sejati

Kepemimpinan selalu menjadi isu sentral di mana pun baik di organisasi, bisnis maupun perusahaan. Harga kepemimpinan menjadi sangat mahal untuk mengubah satu kondisi menuju kondisi yang jauh lebih baik.

Tapi dalam kenyataannya, tidak semua pemimpin dapat mengemban misi kepemimpinannya.
 Malahan yang muncul adalah tirani baru yang mencengkeram anak buahnya dan memaksakan segala kehendaknya tanpa acuan prinsip yang jelas.

 Tidak heran apabila yang muncul adalah kefrustrasian karyawan menghadapi ulah para pemimpin yang semau dirinya sendiri, tidak mau tahu dengan urusan karyawan dan lebih parah lagi kesannya hanya memeras keringat karyawan tanpa mau memperhatikan nasibnya.

Sejarah telah mencatat bahwa pemimpin-pemimpin besar bukanlah mereka yang duduk santai di belakang meja, angkat jari tinggi-tinggi, tunjuk sana tunjuk sini dan melampiaskan kemarahan apabila hal yang terjadi di luar harapannya.
Nabi Muhammad SAW yang disebut sebagai pemimpin luar biasa, dia adalah orang yang rendah hati, memiliki moral yang tinggi, selalu santun kepada kawan maupun lawan, selalu belajar dan selalu mengevaluasi diri.

Tapi bila melihat kemunkaran, kelalaian dan sesuatu yang ganjil, dia akan tegas untuk menegur bahkan sampai menghukum. Tapi bentuk ketegasannya tidak dalam kemarahan, tidak dengan mencak-mencak. Ia tetap tegas tetapi dibalut dengan kelembutan. Bukankah tali yang kuat adalah tali yang lentur, bukan tali yang kaku?

Pemimpin-pemimpin besar lainnya juga memiliki watak yang sama, tapi bila disederhanakan beberapa ciri pemimpin besar adalah; memiliki kecerdasan emosi, memiliki integritas, selalu belajar menambah ilmu pengetahuan, memiliki pola komunikasi interpersonal yang luwes, rendah hati, memiliki visi jauh ke depan, memiliki prinsip yang kuat dan teguh, mampu mempengaruhi pikiran orang lain, menerima kritikan dan masukan dari siapapun, selalu positif thinking, tidak pernah menyalahkan orang lain, selalu mendidik anak buahnya agar tumbuh menjadi jauh lebih baik dari hari ke hari.

Kecerdasan Emosi
Apa itu kecerdasan emosi? Apakah dalam dunia kerja emosi perlu dibawa? Dari jaman dulu sampai sekarang faktor emosi menjadi bagian dari manusia sangat besar yang dapat menentukan ke mana arah langkah seseorang. IQ memang diperlukan, tapi IQ bukan satu-satunya perkara yang bisa menjamin kesuksesan.

Contoh sederhana, seseorang yang memiliki IQ tinggi dengan indikator nilai Matematika tinggi, 9 misalnya, nilai statistik tinggi, Bahasa Inggris tinggi, IPK 3,5. Setelah terjun ke dunia kerja apakah nilai yang tinggi tersebut bisa dijadikan modal satu-satunya untuk meningkatkan prestasi perusahaan?.
Pengalaman membuktikan, mahasiwa yang memiliki nilai tinggi tanpa dibekali dengan kadar emosi yang cukup, mereka gagal dalam dunia kerja. Apakah mereka berantem terus dengan bosnya, pindah-pindah kerja dari satu tempat ke tempat yang lain karena tidak cocok dengan teman-temannya dan hal-hal lain yang memungkinkan orang tersebut tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan baru karena merasa dirinya jauh lebih pintar dari yang lain.

Sementara di sisi lain, mereka yang memiliki IPK sedang-sedang saja, tapi luwes dalam bergaul, memahami kebutuhan orang lain, memberikan perhatian kepada teman-temannya yang sedang ada masalah, mereka jauh lebih sukses dan berhasil baik dalam karier maupun dalam mentalnya.

Ini perbedaan IQ dengan EQ dapat dilihat secara mencolok dari hasil kerja pikiran mereka. Demikian halnya dengan kepemimpinan. Seorang pemimpin yang menggunakan pendekatan kecerdasan emosi (EQ) akan menghasilkan kinerja jauh lebih baik ketimbang pemimpin yang hanya menggunakan pendekatan IQ.

Coba bedakan, pemimpin yang menggunakan kecerdasan emosi, pola pikirnya dimulai dari melihat karyawan sebagai asset dan bagian yang penting untuk masa depan perusahaan. Apabila karyawan bebas dari masalah, selalu termotivasi, diperhatikan kebutuhan dasarnya, maka mereka dengan sendirinya akan maksimal dalam bekerja.

Keuntungan atau laba pada dasarnya hanya merupakan akibat dari karyawan yang memiliki semangat tinggi, tidak ada masalah pribadi dibawa ke kantor dan mereka terus belajar untuk melihat peluang pasar di depan matanya.

Jadi, kalau mau untung, kalau mau sukses, peliharalah orang-orang di dalam terlebih dahulu. Mulai dari mutu customer servis agar pelanggan puas, memelihara kualitas produk, membina pelanggan dengan pendekatan tertentu sehingga mereka merasa dekat dengan perusahaan kita.

Di sini ada beberapa hal yang harus terus menerus diperhatikan mulai dari kondisi karyawan, kualitas produk, memelihara pelanggan dan melakukan komunikasi yang kondusif dengan pelanggan. Satu hal lagi ketika bisnis sudah mulai sangat kompetitif, harus selalu kreatif menciptakan produk baru agar pelanggan tetap mencari produk kita.

Sejauh mana perusahaan memperhatikan karyawan? Lebih spesifik lagi, sejauh mana pemimpin memperlakukan karyawan? Karyawan juga manusia memiliki masalah, keluh kesah dan persoalan hidup sehari-hari.

Ketika pemimpin tidak mau tahu terhadap persoalan karyawannya, jangan menyesal kalau terjadi turn over yang cukup tinggi di perusahaan tersebut. Pemimpin harus mampu menempatkan diri sesuai dengan situasi yang tepat.

Kadang bersikap sebagai seorang manager, kadang bersikap sebagai seorang bapak kepada anaknya, kadang bersikap sebagai teman atau sahabat, kadang bersikap sebagai konsultan, kadang bersikap sebagai juru therapis yang mengobati pasiennya.

Pemimpin tidak bisa bersikap seperti raja yang duduk manis didampingi dayang-dayang yang selalu mengipas-ngipas dirinya, tidak pernah turun ke lapangan, dan titahnya harus dituruti, peduli apakah titahnya itu logis atau tidak, penting atau tidak.

“Saya kan raja, jadi anda harus nurut.” Kepemimpinan model ini sama sekali tidak akan laku di pasaran. Mungkin anak buah menuruti perintahanya, tapi landasannya karena takut dan terpaksa, bukan karena senang melakukannya. Dan sebentar lagi mereka akan keluar dari perusahaan tersebut.

Pemimpin harus mampu mengelola emosi karyawannya. Satu waktu berikan pujian kalau karyawan melakukan berprestasi. Jangan sungkan-sungkan untuk mengatakan “Bagus, anda melakukan tugas secara baik, lanjutkan di masa-masa mendatang.

” Jangan sampai terjadi, ketika salah didamprat habis-habisan sampai semaput, ketika berprestasi malahan tidak disapa sedikit pun. Ini kan tidak fair memperhatikan anak buah atau karyawan hanya ketika mereka melakukan kesalahan saja.

Kalau karyawan melakukan kesalahan, jangan ditegur di tengah-tengah forum yang dilihat banyak orang. Tarik ke dalam, bicara empat mata, kalaupun mau mengkritik habis, marah atau apapun, lakukan di sana. Sehingga harga dirinya tetap terjaga.

Kalau ditegur dan dimarahi di tengah-tengah karyawan lain, siapapun akan menanggung rasa malu yang sangat besar, sementara mungkin tingkat kesalahannya tidak seimbang dengan tingkat kemarahannya.

Memimpin manusia memang memiliki keunikan-keunikan tersendiri. Terlalu keras dalam memperlakukan karyawan, mereka tidak bisa menerima, terlalu lembut dalam pengertian tidak tegas pun akan tidak berwibawa dan tidak dihargai.

Namun selama ini pendekatan kepemimpinan melalui pendekatan emosi jauh lebih efektif karena kita melihat orang dari kacamata yang holistik. Ini memang ujian kepemimpinan, banyak orang yang pandai dan berpengalaman di mana-mana, tapi ternyata gagal dalam memimpin manusia di bawah naungannya sendiri atau karyawannya sendiri.

Sampai di sini apakah kita masih bersikeras untuk memperlakukan karyawan, anak buah atau staf organisasi dengan cara-cara yang kaku, hitam putih? Atau kita berpikir ulang untuk bersikap jauh lebih luwes dalam memperlakukan karyawan.

Ken Blanchard dalam Self Leadership membagi sikap seorang leader ke dalam empat kategori ketika melihat karyawan dan situasi yang berbeda-beda:

1. Kondisi emergency
Pemimpin harus mengarahkan atau memerintah. Misalnya saja, terjadi kebakaran di sebuah tempat, pemimpin yang bersangkutan benar-benar harus memberikan instruksi secara jelas, tegas, bahkan cenderung otoriter, tidak ada usul atau bantahan. Dan sebaliknya anak buah pun harus mengerti kondisi sehingga si pemimpin bersikap demikian.

Masa sih dalam situasi yang gawat seperti kebakaran masih ada perdebatan sengit untuk membiarkan kebakaran menjalar atau secepatnya mengatasi kebakaran. Sudah tentu target yang harus dilakukan adalah segera menghentikan kebakaran tadi.

2. Melatih
Latihan diberikan kepada karyawan yang memiliki kemampuan sedang dan komitmen rendah. Sehingga dalam kurun waktu tertentu memiliki pengetahuan dan komitmen yang meningkat.

3. Mendukung.
Ini diberlakukan kepada karyawan yang kemampuan tinggi tapi komitmen tidak menentu. Dalam beberapa kasus pemimpin banyak melakukan proses latihan dan mendukung. Sehingga karyawan mendapatkan pengetahuan baru dan langsung dicoba.

4. Menugaskan atau Mendelegasikan Kerja. 
Ini diberikan kepada karyawan yang memiliki kemampuan tinggi dan komitmen yang tinggi pula. Karyawan jenis ini sudah memiliki kesadaran sendiri sekaligus kemampuan untuk mengemban tanggungjawab secara penuh.

Kalau polanya demikian, masih ragukah untuk menerapkan kepemimpinan dengan pendekatan kecerdasan emosi (EQ)? Mungkin perlu dicoba dulu, tetapi sebelum dicoba, pemimpin harus memiliki bekal yang utuh tentang kecerdasan emosi, jangan hanya menerapkan sepotong-sepotong.

SUMBER :
http://rahasiaotakjenius.blogspot.com/2013/05/rahasia-eq-untuk-menjadi-leadership.html#.UrpGIPuX-_M

Kebahagian Sejati Bisa Diperoleh dari IQ, EQ dan SQ yang Seimbang

Jika and sudah pernah membaca bukunya Daniel Goleman yang berjudul Emotional INtelligence, di buku itu dijelaskan bahwa kunci sukses seseorang ternyata tidak hanya disebabkan tingginya IQ ( Intelligence Quotion ) saja, ada faktor lain yang dapatmembawa seseorang menuju jalan kesuksesan, yaitu EQ ( Emotional Quotion ) atau kecerdasanemosional.

Di dalam buku itu diceritakan yang pada intinya bahwa ada  percobaan yang dilakukan terhadap anak kecil, dimana untuk mendapatkan sebuah kue yang enak, seorang anak harus berusaha dan menunggu terlebih dahulu. Dari sekian banyak anak, terdapat sedikit sekali anak yang akhirnya mendapat kue itu setelah berusaha dan menunggu.

Seiring dengan berjalannya waktu, ternyataanak-anak yang sabar ini meraih kesuksesan lebih dibanding teman-temannya yang lain. Setelah beberapa pengkajian dan penelitian lebih dalam, para penelitipun berkesimpulan bahwa kecerdasan emosional yang dimiliki oleh seseorang menjadi faktor kunci dalam keberhasilan seseorang.

Dewasa ini, ada perkembangan terbaru dalam menentukan faktor kunci keberhasilan seseorang,yaitu Spiritual Quotion ( SQ ). Teori ini berkembang setelah didapati banyak orang-orang yang sukses ternyata mempunyai ruhani yang kering.

Mereka kehausan spiritual, setelah mendapatkan apa yang mereka impikan bahkan apa yang semua orang di dunia ini impikan, yaitu kekayaan berlimpah, ketenaran, kekuasaan, kedudukan yang tinggi.

Mobil mobil lux mereka berjejer rapidi dalam rumah bak istana yang megah dan luas. Tetapi justru disitulah mereka menemukan neraka di dalamnya, suami dan istri yang bertikai sepanjang hari, anak-anak yang terbius oleh dunia kelamnya.

Tidak ada kedamaian di sana, yang ada hanyalah detik-detik penantian menuju kehancuran penghuninya. Oleh karena itu selain IQ dan EQ yang tinggi, dibutuhkan lah apa yang dinamakan kecerdasan spiritual ( SQ ). Kuncinya dari semua itu sebenarnya adalah keseimbangan.  Sistem akan rusak jika sub sistem -sub sistem di dalamnya berjalan tidak seimbang.

SUMBER : http://rahasiaotakjenius.blogspot.com/2013/05/kebahagian-sejati-bisa-diperoleh-dari.html#.UrpGC_uX-_M

Tingkatkan Prestasi Anak dengan Menyeimbangkan IQ dan EQ Mereka

Anak yang cerdas dan berguna bagi lingkungan bisa menyeimbangkan kecerdasan intelektual, emosi, dan menggunakannya.Anak yang pintar belum tentu cerdas. Sering kali, ada orang yang pandai di sekolah tapi tidak sukses dalam pergaulan dan pekerjaan sehari-hari. Atau sebaliknya, ada orang yang tidak pandai di sekolah tapi happy dan sukses dalam pergaulan dan pekerjaan sehari-hari.

Mengapa? Psikolog Eileen Rachman mengatakan, ini semua tidak terlepas dari pentingnya IQ (kecerdasan intelektual) dan EQ (kecerdasan emosi). ''Anak yang cerdas dan berguna bagi lingkungan adalah anak yang dapat menyeimbangkan kecerdasan intelektual, emosi, dan menggunakannya,'' tuturnya.

IQ, kata Eileen, sering disamakan dengan intelijensia. Padahal, IQ hanya mengukur sebagian kecil intelijensia atau kecakapan. IQ antara lain hanya mengukur kemampuan membayangkan ruang, melihat lingkungan sekeliling secara menyeluruh, dan mencari hubungan antara satu bentuk dengan bentuk lainnya. Tapi, IQ tidak mengukur kreativitas, kearifan, dan kemampuan sosial.

Jadi, belum tentu anak yang IQ-nya tinggi bakal kreatif. Bisa jadi memang pintar, tapi tidak happy dan sosialisasinya kurang. Anak yang cerdas adalah anak yang bisa berkreasi secara logis dan berguna terhadap apa yang dialami di lingkungannya. Anak yang pintar tapi tidak bisa mengatasi masalah, itu tidak cerdas.

Kecerdasan, kata dia, adalah pemahaman dan kesadaran anak terhadap apa yang dialaminya. Di dalam pikirannya, pengalaman ini diubah menjadi kata-kata atau angka. ''Pemahaman berbuah pengetahuan,'' ujar konsultan sumber daya manusia yang juga direktur Experd ini.

Namun, dia mengingatkan, terlalu banyak pengetahuan seperti kata-kata, angka, rumus, dan simpulan yang tidak berdasarkan pengalaman dapat menghambat perkembangan anak. Hanya mengandalkan pengalaman, sulit menggambarkannya melalui kata-kata dan angka, juga menghambat perkembangan.

Untuk itu, katanya, perlu merangsang cara belajar anak. Misalnya, dengan mengerjakan puzzle, teka-teki, atau belajar keterampilan baru. Ini bisa mengaktifkan kerja pikiran anak walaupun tidak akan meningkatkan skor IQ-nya. Sama seperti otot. Otot yang terlatih lebih siap bila digunakan.

Bagaimana mengoptimalkan kecerdasan anak? Menurut Eileen, itu bisa dilakukan dengan meningkatkan cara belajar, cara membaca, dan cara mengulang.

Cara-cara ini perlu diperkenalkan kepada anak, di samping memperkenalkan strategi, mengambil keputusan yang rasional, dan mencetuskan ide selancar mungkin.Cara lain adalah midmapping. Artinya, biasakan anak mendiskripsikan konsep dengan cara menggambarkannya secara bebas, baik dengan kata-kata, warna, maupun gambar. ''Biarkan anak menghubungkannya dengan apa saja.Biarkan ia bebas menggambarkan hubungannya,'' tuturnya.

Eileen menuturkan, agar anak bisa membaca lancar dan pemahaman penuh, menulis secara kreatif, mengeja dan mengingat, mendengar dan berpikir sekaligus pada saat yang sama, maka dibutuhkan koordinasi otak kiri dan kanan dengan baik dan terlatih.  Untuk itu, perlu menyeimbangkan kerja otak kiri dan kanan.

Menyeimbangkan otak kiri dan otak kanan bisa dilakukan dengan latihan. Misalnya, olahraga dan senam yang melibatkan kedua tangan dan kaki secara seimbang. Atau menggambarkan angka OO selebar-lebarnya dengan kedua lengan secara berlawanan.

Cara menyeimbangkannya, menurut dia, melalui  kebiasaan-kebiasaan. Misalnya, menikmati musik dan kesenian lainnya, menikmati warna, ruang, dan bentuk, menghargai kreativitas, dan menghargai kepekaan perasaan. ''Kecakapan anak akan optimal bila semua potensinya dikembangkan,'' tuturnya. Potensi yang dimaksud adalah daya pikir, daya serap, dan emosi.

Bagaimana dengan EQ? Ini menyangkut angka kapasitas mental yang didasari kepekaan emosi, penyadaran, dan kemampuan mengatur emosi. ''Anak yang kapasitas emosi tinggi dapat membedakan emosi negatif dan positif dan tahu cara mengubah emosi negatif menjadi positif,'' ujarnya.

Anak dengan kecakapan emosi tinggi, antara lain sadar diri, pandai mengendalikan diri, bisa dipercaya, bisa beradaptasi, dan kreatif. Juga bisa berempati, memahami perasan orang lain, bisa menyelesaikan konflik, bisa bekerja sama dalam tim, berani bercita-cita, bisa berkomunikasi, percaya diri, suka membaca tanpa didorong-dorong, serta mengingat kejadian dan pengalaman dengan mudah.

Untuk mengasah kecakapan emosi, Eileen mengatakan, itu bisa dilakukan dengan membiasakan anak menentukan perasaan dan tidak cepat-cepat menilai orang lain atau situasi. Ajak anak berpikir yang betul. Misalnya, saat dalam penantian. Sebaiknya anak tidak mengatakan, ''Ini menyebalkan.'' Ajak anak mengatakan yang sebenarnya, misalnya, ''Aku tidak sabar.''

Perlu juga mengajak anak menggambarkan kekhawatirannya, menyatakan kebutuhan emosinya, mengajak orang menghormati orang lain, atau mengajak anak merasakan energinya, bukan kemarahan. ''Bila anak marah, ajak ia untuk bersemangat mencari pemecahan masalahnya,'' tuturnya. Bagaimanapun, menurut dia, kecakapan anak akan optimal bila semua potensinya dikembangkan.

SUMBER :  http://rahasiaotakjenius.blogspot.com/2013/05/tingkatkan-prestasi-anak-dengan.html#.UrpCm_uX-_M

Mengapa Generasi Baik, Dipersiapkan Sebelum Ibu Hamil

Untuk mendapatkan anak yang sehat dan perkembangan otakyang baik, maka persiapannya harus dilakukan jauh sebelum anak itu lahir. Bahkan sebelum sang ibu hamil. Semakin baik kondisi ibu, akan semakin meningkatkan kualitas kesehatan calon bayi.

Hal tersebut disampaikan komite dari FAO dan WHO spesialis gizi, Ricardo Uauy Dagach, dalam konferensi pers di Shangrila Hotel, Jakarta, Selasa (29/5).

“Persiapan menghasilakan generasi yang baik harus dimulai selama 1000 hari, yaitu 100 hari sebelum kehamilan, 9 bulan ketika ibu hamil, dan 2 tahun setelah bayi lahir. Pada masa kehamilan hingga usia 2 tahun, perkembangan otak bayi sedang berjalan amat cepat,” jelasnya.

Menurutnya, pada dasarnya ketika hamil, ibu memerlukan makanan yang bergizi danoptimal, bukan berarti membutuhkan makanan yang banyak mengandung kalori.

Hal senada disampaikan Damayanti Rusli Sjarif, dokter spesialis anak konsultan nutrisi dan penyakit metabolik, dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

“Persiapan untuk kehamilan bahkan dapat dilakukan sejak sang gadis masih berusia remaja. Karena, ketika persiapan dilakukan setelah hamil, maka golden momen perkembangan otak sudah terlanjur berjalan,” kata Damayanti.

Apabila persiapan tidak dilakukan dengan sebaik-baiknya, kata Damayanti, ibu dapat kehilangan momen yang tepat dan optimal di masa-masa keemasan perkembangan otak berjalan. Namun, tambahnya, masih ada waktu sekitar dua tahun setelah anak lahir, untuk mendorong ibu agar memaksimalkan perkembangan otak anaknya.

SUMBER : http://rahasiaotakjenius.blogspot.com/2012/08/mengapa-generasi-baik-dipersiapkan.html#.UrpDGvuX-_M

8 Cara Agar Otak Berpikir Lebih Cepat

Otak manusia itu pada dasarnya seperti sebuah komputer yang canggih.Bayangkan saja berbagai memori di otak kita disimpan begitu baik, tidak seperti hardisk komputer yang masih mempunyai batasan kapasitas. Selain itu, otak juga mempunyai kemampuan canggih sehingga dapat mengendalikan semua kegiatan di tubuh kita.

Tapi, jangan lupa otak juga tetap membutuhkan nutrisi, oksigen, serta membutuhkan latihan yang rutin. Jika otak terlalu dimanja dan jarang dilatih maka menyebabkan kualitas otak akan menurun. Nah, itulah alasan mengapa otak kita lambat dalam berpikir. Berikut ini adalah cara untuk membuat otak anda kembali fresh dan dapat berpikir cepat:

1. Mengkonsumsi minyak ikan secara rutin
Riset menunjukkan bahwa minyak ikan dapat meningkatkan stamina bagi otak, Sehingga otak tidak cepat lelah dan kemampuanya dapat tetap terjaga.

2. Kerjakan sebuah permainan yang membutuhkan aktivitas otak
Permainan ini seperti mengerjakan teka-teki silang, bermain rubik, sudoku dan lain sebagainya. Sebab, permainan seperti itu bermanfaat untuk melatih otak kita. Semakin kita sering berlatih, semakin cepat kita dapat merasakan perbedaan pada otak kita. Sama halnya seperti otot, jika kita jarang melatih otot, maka otot kita pun akan menjadi semakin kaku.

3. Olahraga teratur
Olahraga tidak hanya bermanfaat untuk menyehatkan tubuh kita, tetapi juga bermanfaat bagi otak kita. Sebab, olahraga berfungsi untuk memperlancar peredaran darah yang masuk ke otak dan membuat pikiran kita menjadi lebih jernih.

4. Pelajari bahasa yang baru
Dari mempelajari bahasa baru, kita dapat menambah impuls-impuls yang ada di otak dan juga dapat meningkatkan koneksi saraf yang baik.

5. Tertawa
Tertawa dapat meningkatkan kualitas dan fungsi otak untuk menstimulasi kedua belah otak pada saat yang sama.

6. Mencoba hal baru
Cobalah belajar suatu alat musik tertentu dan kesenian yang lain seperti melukis. Dengan mencoba hal baru, kita dapat menambah wawasan dan pengalaman, ibarat komputer yang telah ditambah program baru. Begitu juga otak kita, jika kita melakukan kegiatan yang baru maka otak kita juga semakin berkembang.

7. Cobalah belajar untuk melempar sesuatu
Maksud dari melempar sesuatu ini adalah kita belajar untuk melempar barang. Kegiatan ini anda lakukan dengan olahraga seperti basket. Hasil riset dari Jerman menunjukkan bahwa kegiatan ini dapat meningkatkan struktur jaringan otak kita.

8. Gunakan daya imajinasi anda
Apa anda tahu Einstein?? Einstein pernah mengatakan bahwa imajinasi lebih penting bagi daripada pengetahuan yang anda miliki. Coba ambillah waktu luang anda untuk berimajinasi sedalam mungkin, bebaskan diri anda untuk sementara dari pikiran-pikiran yang mengganggu anda untuk berimajinasi. Maka , anda akan menemukan suatu metode berpikir yang belum pernah anda lakukan sebelumnya.

SUMBER: http://rahasiaotakjenius.blogspot.com/2013/05/8-cara-jitu-agar-otak-berpikir-lebih.html#.UrpCV_uX-_M
Do you find yourself having more and more arguments with your teenager? Do these arguments make situations worse instead of better? Do you want to know how to deal with your anger and conflicts constructively? Read on, to learn four effective steps to conflict resolution.

When people are angry, they usually believe they have the right to be. They think that they are right and their child is wrong. So when they talk about their anger, they tell their child to change. This can lead to defensiveness on the part of the child and can further escalate the problem. It’s important to remember that the aim is not to blame others or to justify anger; the objective is to help your child become more responsible and considerate of you. When your child understands you better, it’s easier for him/her to know what to do to avoid your disappointment. When you explain this respectfully and in a non-judgmental way, he/she will be motivated to do the right thing.

The following are four steps towards positive conflict resolution:

Step 1 – Plan talking time when you’re calm
Look for a suitable time to talk about your feelings. It usually doesn’t help to talk about your feelings if you feel very angry because the chance is that you will talk about your anger in a negative way. The Prophet, may peace and blessings of Allah be upon him, said: ‘’…When one of you is angry, he should remain silent.’’ (Musnad Ahmed)

When you and your child are calm, you can initiate talking. You should take this initiative if you were the one who exploded with anger. This shows responsibility and remorse, which are characteristics of maturity. If you don’t take this initiative, your child may think you are careless about his/her feelings. Also, you might miss the opportunity to be a positive role model and teach your child how to resolve conflicts, positively. You can initiate talking by saying that you would like to talk and by asking when this is possible.

Step 2 – Avoid making judgments

To avoid defensiveness; it’s important to talk about your feelings and describe what lead to those feelings without making judgments. Perhaps you could say:

”When you are not home on time, I really get worried.”

or ”When you talk over me, I feel like what I say is not important.”

Instead of:

”You always arrive late, you don’t care about me being worried!

”You never let me finish talking! You don’t care about what I have to say!”

Step 3 – Set a good example
If you became angry because of what was said, you can set a good example by apologising. The more you specify your apologies, the more genuine they are likely to be perceived:

”Sorry for shouting at you. I really got worried when you stayed out so long because I didn’t know where you were.”

”I’m sorry for shouting and calling you irresponsible.”

Step 4 – Problem solve and come to an agreement

To avoid repetition of the argument, it’s important to agree on what you both find suitable for the future. If you were angry about your child arriving late, you can suggest what he/she can do in the future. This might be: coming on time, calling when running late et cetera. It is important to exchange ‘dialogue’ instead of conveying ‘monologue’. If you only tell your child what to do, it is likely he will become defensive. If you ask him/her what he/she can do, he/she will feel respected. He/she will also feel that he/she came up with the solution. These measures increase the chance that he/she will accept the agreement and stick to it.

‘’I want you to come on time next time. What can you do to come on time?’’

If your child continues to be late, you can give him/her another chance and add a consequence. You could say, for example: ‘’If you come late again, you can’t go to your friend for the week.’’

If he/she says that he/she missed the bus or something similar, you could ask him/her what lead to him/her missing the bus. If this is for a valid reason, you could ask him/her to call you when he/she is late so that you can anticipate it. If he/she gives an excuse for not being able to do that (like I don’t have credit), ask him/her for other things he/she could do (buy credit, use the phone of a friend et cetera) until you come to a reasonable agreement.

Sumber : Islam For Kids (Facebook)

Minggu, 22 Desember 2013

Sejarah Hari Ibu di Indonesia

Di Indonesia hari ini dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional.

Sementara di Amerika dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hong Kong, Hari Ibu (Mother’s Day) dirayakan pada hari Minggu di pekan kedua bulan Mei. Di beberapa negara Eropa dan Timur Tengah, Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day) diperingati setiap tanggal 8 Maret.



Sejarah Hari Ibu di Indonesia

Sejarah Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung Dalem Jayadipuran yang sekarang berfungsi sebagai kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional dan beralamatkan di Jl. Brigjen Katamso. Kongres dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Organisasi perempuan sendiri sudah ada sejak 1912, diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Dhien, Tjoet Nyak Meutia, R.A. Kartini, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, dan lain-lain.

Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara, pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan, pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perdagangan anak-anak dan kaum perempuan, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan gender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa.

Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Peringatan 25 tahun Hari Ibu pada tahun 1953 dirayakan meriah di tak kurang dari 85 kota Indonesia, mulai dari Meulaboh sampai Ternate.

Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini.

Misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Dari situ pula tercermin semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama. Di Solo, misalnya, 25 tahun Hari Ibu dirayakan dengan membuat pasar amal yang hasilnya untuk membiayai Yayasan Kesejahteraan Buruh Wanita dan beasiswa untuk anak-anak perempuan. Pada waktu itu panitia Hari Ibu Solo juga mengadakan rapat umum yang mengeluarkan resolusi meminta pemerintah melakukan pengendalian harga, khususnya bahan-bahan makanan pokok. Pada tahun 1950-an, peringatan Hari Ibu mengambil bentuk pawai dan rapat umum yang menyuarakan kepentingan kaum perempuan secara langsung.

Satu momen penting bagi para wanita adalah untuk pertama kalinya wanita menjadi menteri adalah Maria Ulfah di tahun 1946. Sebelum kemerdekaan Kongres Perempuan ikut terlibat dalam pergerakan internasional dan perjuangan kemerdekaan itu sendiri. Tahun 1973 Kowani menjadi anggota penuh International Council of Women (ICW). ICW berkedudukan sebagai dewan konsultatif kategori satu terhadap Perserikatan Bangsa-bangsa.

Kini, Hari Ibu di Indonesia diperingati untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu, memuji keibuan para ibu. Berbagai kegiatan pada peringatan itu merupakan kado istimewa, penyuntingan bunga, pesta kejutan bagi para ibu, atau membebaskan para ibu dari beban kegiatan domestik sehari-hari.

Rabu, 17 Juli 2013

Sesungguhnya Jujur Itu Menimbulkan Ketenangan

ALLAH SWT berfirman dalam surat At-Taubah ayat 119 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada ALLAH dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.”

Guys, maksud dari 'orang-orang yang benar' adalah mereka yang selalu berkata jujur dalam kesehariannya. No words were spoken, except only true and honest out of his/her heart. Bukan perkataan dusta yang direkayasa dan dibuat-buat untuk mengundang simpati dan pembelaan.

Sometimes honesty is painful for some people, because they feel insulted that caught her/him shame, but for the sake of truth honesty is a necessity. Honestly people can also ravaged masses, that's why they prefer to tell a lie to save themself.


For those who god-fearing, godly, devout in religion, it's better be hated because tell the truth rather than liked / loved but heart wrapped in a lie, which in the end like a "Sepintar apa pun kita menyimpan bangkai, akan tercium juga."

" Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu‘anh, he said : I memorized a few sentences of Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam, namely: "Leave what you doubt and do what you are not doubt. Truly honest it raises serenity and lie raises doubts." (HR. Tirmidzi).

Guys, if we already know that can honestly make us calm, it will be good from now on we are honest in every word and deed. Be honest to yourself first before to be honest to others. And bend over backwards to avoid saying the lies and vain. May ALLAH always leadeth way that blessed ALLAH for us all, Aamiin berdoa.

Kamis, 11 Juli 2013

Every word is a Du'a.

Every word/utterance is Du'a. So, be careful in speaking. Although it's a complaint. Because, could have been that ALLAH SWT grant/ijabah all of what we said.

Utterance is not just words that have no meaning, because every word spoken was connected with the intellect and our minds. So, every word what we say from the mouth will be absorbed brain, and then it's words will be instructions/orders to brains to do something or think something.

Utterance is also very influential on fate, because every utterance is like a Du'a which is almost always granted/Ijabah by ALLAH. So, when we say that we not able of doing something, it the same like Du'a that we not able of doing a something that.

Without realizing it, we may ever say one or two words that hurt someone's feelings. Maybe family members, friends, best friends, etc.

If pain because physical injury, it could be seen and treated quickly. But, if pain in the heart (feelings), who knows (?). Even sometimes / often times we have to fight hard to get his/her apology. Hope we can be cautious/careful to speak although in jest/joke.

Utterance is Du'a, and very influence to what was say and also what is done by the person.


"Starting from the words, and then a feeling created."
Because the words themselves are a reflection of ourselves, because the words themselves are suggestions. 

 Every word what we say, positive or negative, actually emerged from the ideas and of our subconscious. They are tightly interconnected with each other. 

Be careful/be cautious, because every word what we say is a Du'a or most powerful spells. Nature also will respond and give strength in every word what we say.

A word will be so strong, when we speak in anger and high emotion.
So, don't let it all backfired for ourselves, because what we say is what will happen.
Therefore, we must be a wise to use our minds, because our minds will be a words what we say.

Prophet Muhammad SAW is a very polite person, even when upset/angry he never put the words that are not pleasant to hear. Strands du'a always flowing from his mouth, SubhanALLAH <3 p="">
Good personal is able to contol his/her anger, conditions like anything should be faced and should be able to handle it, and also speak soft. I mean, speak soft is don't hurt the feelings of those who hear. Can understand what i mean, right? :o

In terms of religion (Islam in particular), manners in speak is also recommended. As the Prophet Muhammad SAW said  “Kullu kalam addu’a”  which means every word is Du'a. Altough it's a good word or bad, both contain elements of Du'a for those who speak it.


13317063881760195004 


Prophet Muhammad : 
"Whoever believes in ALLAH and the Last Day then let him/her  speak good or keep quiet."
  
Prophet Muhammad SAW said: 
"are saying a Muslims is humans who survived/safe the dangers of the tongue, and hands. "

Imam Ali Radhiallahu’anhu said:
"Evil heart lies in her/his mouth, and good mouth (kind word) lies in his/her heart."


Hopefully this post was helpful to us all senang

Guys, maaf sebelumnya kalau bahasa inggris ku so bad bhahaha :|